To Be Seen By Him

To Be Seen By Him

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing10m
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 9, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Agustus datang dengan pelan, membawa keheningan yang terasa seperti pertanda. Ivy tidak pernah berniat jatuh hati. Ia hanya ingin melewati hari-harinya di kampus tanpa banyak suara, cukup menjadi bagian dari keramaian tanpa perlu terlihat. Lalu ada Harvey Nolan Bennet. Lelaki yang tak pernah mencari sorotan, namun entah bagaimana selalu menjadi pusat ketenangan di tengah kekacauan. Kata-katanya tenang, caranya memimpin membuat orang-orang mendengarkan, dan kehadirannya seperti membuat waktu melambat. Ia tak pernah melihat Ivy. Setidaknya, tidak seperti Ivy melihatnya. Tapi saat namanya terucap untuk pertama kalinya, dan tatapannya singgah meski sebentar, dunia Ivy mulai berubah sedikit demi sedikit. "To Be Seen by Him" adalah kisah tentang perasaan yang tumbuh diam-diam, tentang keinginan sederhana untuk diperhatikan, dan tentang bagaimana satu tatapan bisa berarti lebih dari seribu kata.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • My Graffiti, Sire
  • Lelaki Itu Takdirku
  • senyuman Terakhir [ C ]
  • Saat Takdir Memilih [C] [EDITING]
  • Jangan Berpaling Dariku
  • 𝐊𝐄𝐓𝐔𝐀 𝐏𝐄𝐍𝐆𝐀𝐖𝐀𝐒 𝐈𝐓𝐔 𝐒𝐔𝐀𝐌𝐈𝐊𝐔! || 𝐂
  • Chatralian's Home [END]
  • View From My Window [COMPLETED]
  • Drugs || Yocat x Seungzz x Seungseok

Tubuhku selalu dalam keadaan kedinginan jika berada di Fenchurch, sebuah jalan yang cukup historis di sisi timur kota London. Sprektrum warna langit dan terkadang pelangi yang membentang di luasnya cakrawala menjadi penemanku. Dapat kupastikan, tujuanku ke sana hanya untuk mencari kedua raga tak bertanggung jawab, menyusuri setiap wajah, sampai akhirnya perjalananku tidak lagi sendirian. Seolah itu keadilan alam, aku bertumpu penuh padanya, ratu kecantikanku. Namun, perlahan perjalanan ini digerogoti waktu. Hingga mereka yang baru saja kuanggap putaran kewarasanku--yang membuat warna duniaku lebih jelas itu... terasa tak pernah sejauh ini. "Setiap orang layak bahagia, termasuk kau," Dia bilang begitu. "Jika tidak?" Aku menyahut dengan rahang yang mengeras. "Bahagiamu di ketenangan putih yang diciptakan Tuhan." Dan saat itu, aku tak percaya. Tidak pada Tuhan, tidak pada penanggung jawab rasa sakit. Akankah kalian membantuku? Aku Gray Robbin. --DONT TOLERATE PLAGIARISM!-- ©belliotte ©Mei2025

More details
WpActionLinkContent Guidelines