Menuju Seperempat Abad [End]✓

Menuju Seperempat Abad [End]✓

  • WpView
    Reads 798,326
  • WpVote
    Votes 26,246
  • WpPart
    Parts 43
WpMetadataReadComplete Tue, Aug 25, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Contract Relationship
Romantic Comedy
Marriage and Divorce
Menceritakan tentang kehidupan Sekar di usia menuju seperempat abadnya alias dua puluh lima. Usia dimana lagi stres-stresnya. Mana lagi jomblo, eh uji nyali pula resign kerja, padahal keluarganya juga lagi kesulitan ekonomi. Di fase stressnya itu dia malah dijodohin sama Paman sahabatnya yang berbeda sangat jauh umurnya dengan Sekar. Ganteng sih, tapi duda! Udah ya segini aja gak banyak-banyak deskripsinya. *Ceritanya lebih ringan minim konflik soalnya pucingg banyak-banyak konflik wkwk. *cover by canva.
All Rights Reserved
#1
tajir
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Prenuptial Agreement
  • THE LEFTOVERS LADY
  • The Crazy Wedding
  • APA!!! DIJODOHKAN ??? PART 1
  • After Met You
  • My Lecturer My Husband [SUDAH TERBIT]
  • TASYA & CALVIN
  • Dijodohkan Dengan Gus Rian
  • PERJODOHAN CH2
  • Sigaraning Nyawa Sang Komandan [Revisi]
  • Married with you✔
  • ISTRI GEN -Z
  • My Cold Husband (내 추운 남편)
  • BADBOY IS MY HUSBAND
  • Nikah Muda (Sudah Tamat)
  • Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
  • °メDipaksa Kawinメ° [SELESAI]~
  • The First One
  • Stepping Stone (End)

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines