Peringatan cerita mengandung 🔞
mohon bijak dalam membaca!!
Titik Rasa
"Ada luka yang tak bisa diobati, kecuali oleh rasa yang tak seharusnya tumbuh."
Kalea, anak bungsu dari keluarga dokter ternama, baru saja menyelesaikan internship dan memulai kariernya sebagai dokter muda di trauma center rumah sakit milik keluarganya. Tapi ia datang bukan sebagai anak pemilik, melainkan sebagai staf biasa-menyembunyikan identitas, menjauh dari sorotan, dan mencoba melepaskan diri dari hubungan toxic bersama Pandu, pacarnya yang menyimpan rahasia kelam yang membuat Kalea terjebak dalam ketakutan.
Di tengah tekanan dan ritme kerja yang brutal, Kalea menjadi asisten Zidan-dokter spesialis trauma yang dikenal dingin dan tanpa ampun. Mereka punya masa lalu: Zidan adalah sahabat kakaknya. Tapi Kalea memilih bersikap seolah mereka asing. Sampai satu malam yang mengubah segalanya: Zidan menyaksikan sisi gelap hubungan Kalea dan Pandu, dan memutuskan turun tangan.
Dari satu pertolongan, lahirlah perjanjian gelap. Rasa aman sebagai bayaran. Tubuh sebagai timbal balik. Tanpa cinta. Tanpa ikatan. Hanya kesepakatan diam-diam yang perlahan menumbuhkan celah: celah bagi rasa yang seharusnya tak muncul.
Namun, rasa tak bisa dikendalikan. Terutama saat masa lalu Zidan menghantui dan perasaan Kalea tumbuh dalam diam.
Bisakah sebuah hubungan yang dimulai dari luka menemukan bentuknya sendiri?
Atau semuanya akan berakhir saat rasa yang tumbuh melampaui batas?
[note : dilarang membagikan atau merepost cerita saya di menfess base twitter.]
Tugas Nayaka cuma satu, membatalkan rencana pernikahan yang diatur kedua orang tuanya untuknya.
Dengan tingkahnya yang sering disebut menyebalkan, seharusnya tugasnya itu bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Sayangnya, wanita yang merupakan calon istri Nayaka bukan wanita biasa.
Alih-alih ikut melancarkan rencananya karena wanita itu juga terpaksa menikah dengannya-seorang pria asing yang tidak mencintainya dan tidak dicintainya, calon istri Nayaka justru muncul dengan ide yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
"I can love you. Jadi... kita tetap akan menikah."