Pelabuhan Tanpa Suara (Sudah Terbit)

Pelabuhan Tanpa Suara (Sudah Terbit)

  • WpView
    Reads 294
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, Jun 8, 2025
"Kadang, rumah bukan tempat kita berasal. Tapi tempat yang perlahan kita bangun dengan kejujuran, sakit dan juga cinta." Sabiru tumbuh dalam keluarga yang utuh, tapi hampa. Ia terbiasa hidup dalam diam, menekan segala luka agar tidak membebani siapa pun. Hanya bersama Gita, kekasihnya, ia merasa aman dan dicintai dengan layak. Namun segalanya hancur saat Gita mengkhianatinya, dan teman-teman yang selama ini dekat menghilang satu per satu. Ketika sepi mulai mengguncang hidupnya, ia menemukan hal-hal ganjil yang tidak pernah dalam dugaannya. Rahasia-rahasia mulai terkuak membuat Sabiru berpikir apakah ini hanya delusinya semata? Dalam perjalanan menyusun kembali arti kehidupan, Sabiru dihadapkan dengan satu pertanyaan besar: apa sebenarnya arti pulang? Sebuah kisah tentang kehilangan yang tidak terlihat, cinta yang mengecewakan, dan keberanian membangun rumah di dalam diri sendiri. Bagi siapa pun yang pernah merasa sendirian di tengah keramaian, kisah Sabiru akan menggema dalam keheningan terdalammu. Kalau penasaran, jangan lupa pesan di link ini yaa! https://id.shp.ee/PSgP7qF
All Rights Reserved
#127
funfiction
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Waiting Room [TERBIT]
  • Rumah Yang Kuciptakan Sendiri
  • NALA KEENARA [Hiatus]
  • HOME FOR WOUNDS
  • RUANG DEPRESI [ END ]
  • 𝐇𝐞𝐥𝐥𝐨, 𝐰𝐞𝐥𝐜𝐨𝐦𝐞 𝐡𝐨𝐦𝐞
  • Kau Rumahku
  • Kesedihan [SELESAI]

Banyak sekali luka yang ditoreh dari sebuah ruang sederhana yang semestinya menjadi tempat bertumbuh: keluarga. Bagas dan Arjuna akhirnya diam-diam mencibir diri sendiri. Terkadang meradang juga ketika satu-satunya-ibu-yang tersisa sama kerasnya dengan mereka berdua. Aneh pula rasanya ketika seseorang berkunjung di Rabu siang kala itu. Namanya Lika. Bagas pernah membual tentang "rumah trauma" yang ia bangun bersama Arjuna dan Ibunya saat dengan Lika. Bagas ingin bebas, tapi masih terasa terkungkung. Arjuna yang masih terpenjara masa lalu, belum siap menerima konsekuensi atas segalanya. Sang Ibu yang pasif namun agresif itu terus meracau sejak tujuh tahun lalu. Rumah dan keluarga menurut Bagas serta Arjuna bukanlah sesuatu yang indah, malah justru membuat perutnya nyeri saking kacau balau dibuatnya. Ini tentang luka dan trauma yang ingin sembuh di sebuah ruang riuh yang sudah lama hampa. ©️ hejtrias, 2025

More details
WpActionLinkContent Guidelines