Dua Cincin

Dua Cincin

  • WpView
    Reads 468
  • WpVote
    Votes 70
  • WpPart
    Parts 24
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 8 hours ago
Nahla membenci luka masa kecilnya. Tidak pernah benar-benar memaafkan bagaimana sang ayah meninggalkannya demi orang ketiga. Hingga sumpah terucap: tidak akan menjadi alasan seseorang hancur seperti apa yang ibunya alami. Namun sebuah kenyataan menghantam. Cinta pertama hadir dalam keadaan yang berbeda. Ada cincin yang tersemat di jari pria itu dan sosok kecil yang memanggilnya ayah. Sebuah pertemuan tidak pernah terasa cukup. Norma dan batas menipis. Sementara logikanya menjerit. Luka, trauma, permintaan maaf dan realita menghajar. Membawanya pada satu titik untuk memilih. Pergi atau bertahan. . . . First Published: 01 May 2026 Last Published:
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Juan [REVISI]
  • ego dan penyesalan
  • Aku, Kamu, Yang Beda. [On Going]
  • ILUNGA √
  • Dia, Cinta Sekaligus Luka
  • Ikhtiar Menjemput Cinta [REVISI + END]
  • TAK BERSAMBUT
  • hati yang tak pernah di pilih [END]
  • THIS IS ME, KEIRA [TAMAT]
  • DENNIES

Ini bukan kisah romansa dimana si pangeran sekolah jatuh cinta dengan primadona sekolah, bukan pula kisah si badboy yang jatuh cinta dengan seorang gadis polos, apalagi kisah si tukang bully yang jatuh cinta dengan korbannya. Sekali lagi ku ingatkan, ini bukanlah kisah romansa remaja masa kini. Kisah ini hanyalah perjalanan hidup seorang remaja dalam menjalani hidupnya. Ini kisah seorang remaja yang mencoba bertahan di tengah kerasnya dunia, dimana ketidakadilan benar-benar nyata. Cerita ini penuh dengan diskriminasi terhadap ia yang tidak 'sempurna'. Tentang mereka yang terjebak dalam nerakanya dunia. Tentang segala luka dan tangisan yang teredam. Tentang ketidakadilan yang ia rasa, sebab keadilan hanya milik mereka yang 'berpunya'. Kisahnya tidak berhenti di sana, sebab masih banyak luka yang akan ia rasa. Mereka yang ia harapkan dapat menyembuhkan luka, nyatanya hanyalah pemberi luka paling banyak. Ia hanya berharap hadirnya dapat diberi kasih, tapi bagaimana bisa jika hadirnya saja tak pernah diharapkan. Karena ia adalah hadir yang membawa luka. Jangan pikir bahwa ia tak pernah melawan, karena nyatanya, ia akan selalu melawan meski perlawanannya tak pernah membuahkan hasil. Sebab keadilan bukanlah miliknya. Memangnya apa yang bisa diharapkan di dunia ini? Jika memang masih ingin bertahan, maka jangan terlalu berharap kepada seseorang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines