"Kangen..." bisik Dew pelan, suaranya serak menahan gejolak emosi. Hanya satu kata, namun sarat akan berjuta makna: rindu akan kehangatan Tee, rindu akan kemesraan mereka, rindu akan Tee yang dulu. Tubuh Tee sedikit menegang merasakan sentuhan Dew. Ada jeda beberapa detik sebelum ia merespons. Tangannya yang berada di bawah selimut bergerak, menepuk pelan tangan Dew yang melingkari perutnya, sebuah gestur yang ambigu - antara menerima atau menolak. Namun, ia tak membalikkan badannya, tak juga balas memeluk. "Iya..." jawab Tee dengan suara yang sangat pelan, nyaris tak terdengar. "Tidur gih, Dew. Udah malem banget." Nada suaranya datar, tanpa emosi, namun Dew bisa menangkap getaran samar di sana, getaran yang entah berarti apa. ----
More details