"The Boy Who Loved Bianca"

"The Boy Who Loved Bianca"

  • WpView
    Reads 90
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 10, 2025
Untuk Seorang yang Pergi Tanpa Pamit Aku selalu percaya bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya. Tapi rasanya, tidak berlaku untuk kehilangan Dipta. Hai, Namaku Fikri Rajendra Zayd Dan ini bukan ceritaku. Ini tentang seseorang yang pernah hidup tapi memilih menyembunyikan dirinya dari dunia. Seseorang yang tertawa seperlunya, bicara seperlunya, dan mencintai... dengan cara yang tak biasa. Satrio Mahendra Pradipta. Atau seperti yang kami biasa memanggilnya: "Dipta". * Ini adalah kisah tentang cinta yang tumbuh dalam kepalsuan, sakit yang ditinggalkan, dan perjuangan untuk memaafkan diri sendiri. Kisah ini aku ambil dari buku harian Dipta yg diberikan olehku dari sepupu nya yg bernama Rania. Setiap hari aku selalu membaca buku harian Dipta dan banyak sekali puzzle yg Dipta berikan disetiap lembaran buku nya sampai akhirnya Dipta pergi untuk selamanya karna dia sudah sangat lelah untuk bertahan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ASING KARNA TAK LAGI BERSAMA
  • Maaf' (Revisi)
  • Sepasang Luka Merajut Asa [END]
  • ZAUJI GUS DYLAN | END
  • Di Bawah Langit yang Sama, Tanpa Jejakmu
  • JANJI YANG TAK SEMPAT DITEPATI
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (Revisi)
  • Gupta

Aku takkan menyalahkan takdir bila memang harus berpisah, Aku hanya membenci hari hari setelahnya. Berharap menemukan senyuman itu di ladang yang tandus, kering dan sunyi. Seperti itulah gambaran perasaan seorang ayah, Disaat hakim memutuskan untuk mensetujui perceraian. KARMA! Jika memang karma,aku baru saja memulai kisah. Bukankah tuhan membenci sebuah perceraian? Lalu apa ini sebuah takdir untukku? Optimisku masih positif, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kata berpisah. Rasa optimisku menuntunku untuk bertemu pilihan tuhan, dengan hadirnya dia yang mampu mengubur masalaluku tapi tidak untuk menemani hari tuaku. Benci tanpa kata iklas, sudah merasuk dalam hati. Mengambil alih susunan memori kenangan agar tak terlintas dalam benak. ~Seseorang tidak Terlahir untuk Jadi Pemimpin Namun Keadaan yang Memilihnya~ ~Ketika Cinta Menjadi Nyata,Dia akan Menemukan Jalannya Sendiri~

More details
WpActionLinkContent Guidelines