Senja Tanpa Mentari

Senja Tanpa Mentari

  • WpView
    Reads 117
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadComplete Fri, Jan 23, 2026
Senja Tanpa Mentari mengisahkan Arman, seorang seniman muda di Pontianak. Kehidupan Arman yang tadinya dipenuhi warna-warni kanvas dan gelak tawa bersama kekasihnya, Aisha, kini hanya tersisa bayangan dan kesunyian. Aisha, yang menjadi inspirasi utama dalam karyanya, meninggalkannya untuk pria lain, meninggalkan luka yang dalam di hati Arman. Setiap senja, Arman duduk di teras rumahnya, memandang kota Pontianak yang tenang dari kejauhan, merasakan kehilangan yang menghancurkan. Kanvasnya kini hanya terisi oleh warna-warna gelap dan garis-garis yang menunjukkan kekacauan batinnya. Kisah ini menelusuri proses Arman dalam menerima kehilangan dan berdamai dengan rasa sakit hati yang mendalam. Ia berjuang untuk menemukan kembali semangat hidupnya di tengah kegelapan, mencari inspirasi baru di jalan-jalan kota Pontianak, dari keindahan Jembatan Kapuas hingga keheningan di sekitar Masjid Raya Mujahidin. Namun, bayangan Aisha terus menyertainya, mengingatkannya pada cinta yang hilang dan harapan yang patah. Melalui perjalanan emosional ini, kita akan melihat bagaimana Arman, seorang seniman muda yang peka, berjuang untuk menemukan cahaya di tengah senja tanpa mentari, menciptakan karya seni sebagai ekspresi perasaannya dan mencari arti hidup baru di tengah luka cinta yang mendalam.
All Rights Reserved
#28
canva
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja di Bandung
  • ZA&RA
  • Keluarga di Ujung Senja
  • Senandika : Titik Temu
  • Jejak hati di kota Senja
  • Pendekar Dari Pajajaran
  • Z A M M A R
  • Kanvas Rindu

Dalam sekejap mata, kehidupan Senja berubah total. Seorang pemuda yang tumbuh dalam kehangatan keluarga sederhana, Senja menikmati hari-harinya diiringi oleh puisi-puisi ayahnya yang penuh kebijaksanaan. Namun, ketika sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa kedua orang tua dan adiknya, Senja harus menatap kenyataan pahit: ia yang tersisa, terperangkap dalam kesedihan dan kekosongan yang mendalam. Terjerumus dalam trauma dan duka, Senja merasa kehilangan arah dan tujuan hidup. Namun, di tengah gelapnya penderitaan, ia mendengar bisikan tentang Bandung-kota yang dipercaya sebagai "diciptakan Tuhan saat Tuhan tersenyum." Dengan sisa keberanian yang tersisa, ia memutuskan meninggalkan masa lalunya dan memulai perjalanan menuju Bandung, berharap menemukan secercah harapan dan penyembuhan bagi jiwanya. Di Bandung, Senja menemukan dunia yang berbeda, di mana sejarah dan seni berpadu dalam setiap sudut kota. Di tengah perjalanan itu, ia bertemu Arlana, seorang seniman jalanan dengan jiwa kritis yang mengerti bahasa keindahan dalam setiap goresan lukis dan nada gitar. Melalui pertemuan mereka, Senja mulai menulis kembali puisi-kata-kata yang dahulu menjadi warisan ayahnya. Setiap bait yang ia tulis adalah pengakuan atas luka yang dalam, sekaligus seruan untuk menemukan kembali arti hidup di balik kesedihan. "Senja di Bandung" adalah sebuah kisah yang mengangkat keindahan puisi sebagai penyembuh jiwa. Di antara deretan puisi yang mengalir, Senja dan Arlana menemukan bahwa setiap luka memiliki sajaknya sendiri, dan bahwa keindahan sering kali lahir dari penderitaan terdalam. Novel ini mengajak pembaca untuk merenungi bahwa meski hidup kerap dipenuhi kehilangan, dari kepedihan itu akan tumbuh harapan baru-sebuah perjalanan batin yang menuntun pada penerimaan diri dan keajaiban dari setiap kata yang terukir di dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines