The Final Curtain

The Final Curtain

  • WpView
    Reads 153
  • WpVote
    Votes 139
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 14, 2025
Sejak kecil, dunia balet telah menjadi rumah bagi dirinya. Ia tumbuh dengan mimpi dan gerakan, melompat dari satu panggung ke panggung lainnya, hingga namanya dikenal di antara pesta istana dan pertunjukan bergengsi. Namun hidupnya berubah drastis ketika sebuah kabar menghantam jiwanya-seorang anggota keluarganya tewas dalam kecelakaan yang terlalu aneh untuk disebut wajar. Saat itu, semua hal terasa runtuh. Panggung, tepuk tangan, dan gemerlap cahaya tak lagi berarti. Ia bisa saja tenggelam dalam duka, namun ia memilih bangkit. Di balik riasan dan kostum baletnya, ia menyimpan tekad membara: mencari kebenaran, membuka rahasia, dan menari hingga tirai terakhir benar-benar tertutup. Semuanya terjadi di Paris, tahun 1990.
All Rights Reserved
#140
teka-teki
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [√] Memorabilia
  • Tidak ada yang pernah mendengar teriakku
  • Debt of Desire (END)
  • Hope Was My Mistake
  • Gairah Liar Boss Gila [21+]
  • antara janji dan kenyataan : janji yg menyakitkan
  • Run With Me
  • Bersama Si Elang 🦅
  • Let's Make A Happy Marriage
  • Tempted

Kisah singkat ini berisi beberapa cerita pendek yang menghadirkan kenangan-kenangan masa lalu pun masa kecil yang mungkin mulai terlupakan. Kamu bisa membacanya di malam yang dingin dengan ditemani secangkir susu hangat dan cookies sebagai pemanis dan hidangan penutup hari ini. *:..。o○𝓢𝓮𝓵𝓪𝓶𝓪𝓽 𝓜𝓮𝓶𝓫𝓪𝓬𝓪○o。..:* Aku melihatmu yang tengah duduk di bawah langit biru siang itu. Pakaianmu yang berantakan tetap tak mampu menutupi wajah indahmu yang terkena terpaan sinar matahari. Aku menghampirimu, lantas duduk di sebelahmu. Kamu menangis. "Apa yang harus kulakukan?" tanyamu, masih dengan isak tangis yang kian lama kian menyayat hati kecilku. "Bantu aku..." kamu menggenggam tanganku erat. Menatapku dengan lekat. "Aku telah melupakan semua kenangan indah itu. Aku tak lagi bisa mengingatnya." Suaramu tercekat saat mengatakannya. Derai air matamu membasahi tanganku. Aku turut membawamu ke dalam dekapku. Aroma rambutmu yang seperti bunga peonie menyeruak masuk ke penghiduku. Aroma yang kusukai. "Baiklah... aku akan membantumu." Tanganku menyusuri surai legam milikmu yang terasa selembut sutra. "Aku akan membantumu mengingat semua kenangan indah itu... Memorabilia." [Cerita ini hadir untuk memenuhi UNBK yang diselenggarakan WGA sebagai syarat kelulusan menjadi alumnus] 𝘔𝘺 𝘧𝘢𝘷𝘰𝘳𝘪𝘵𝘦 𝘤𝘩𝘢𝘱𝘵𝘦𝘳 - 𝘌𝘷𝘢𝘯𝘦𝘴𝘤𝘦𝘯𝘵 - 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘴𝘵𝘳𝘰𝘧𝘦 - 𝘉𝘭𝘢𝘤𝘬 𝘙𝘰𝘴𝘦

More details
WpActionLinkContent Guidelines