LAB TANPA ETIKA

LAB TANPA ETIKA

  • WpView
    Reads 69
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 16, 2025
Di balik dinding megah Nusantara High School, tempat para siswa berpenampilan rapi dan berpikiran tajam, tersembunyi luka yang tak pernah diperiksa. Luka yang menunggu waktu untuk berdarah. Aldwin Cakrawala, remaja pendiam dan jenius kimia, bukan sekadar korban bullying. Ia adalah gambaran nyata dari jiwa yang perlahan dikikis oleh tawa ejekan, tatapan hina, dan ketidakpedulian sistem. Ketika hinaan menjadi rutinitas dan sekolah tak lagi menjadi tempat belajar, Aldwin membuat keputusan yang mengubah segalanya. Dalam senyap, ia menciptakan sebuah formula kimia yang tak hanya mengancam tubuh, tapi juga mengguncang hati nurani manusia. Satu tetes racun dituangkan ke dalam toren air sekolah. Satu tetes yang mengubah hari-hari biasa menjadi bencana yang tak bisa dilupakan. Sekolah itu dikunci. Isolasi diberlakukan. Satu per satu para pelaku bullying mulai merasakan siksaan yang tak terbayangkan, kulit yang melepuh, tubuh yang panas seperti terbakar dari dalam. Dan ketika dunia akhirnya membuka mata, Aldwin telah tiada. Ia ditemukan tiga hari kemudian, bersama secarik surat yang hanya berisi satu kalimat "Mungkin kalian akan mengingatku setelah semuanya terbakar". LAB TANPA ETIKA bukan sekadar cerita tentang balas dendam. Ini adalah potret getir dari sistem pendidikan yang gagal melihat penderitaan yang bungkam dari generasi yang tumbuh dari tekanan, dari luka yang Diarawat dalam sunyi hingga menjadi senjata. Melalui mata Diara, sahabat Aldwin yang mencoba memahami serpihan keputusasaan itu, kita diajak menelusuri jejak-jejak terakhir yang jenius untuk mencari bukan hanya alasan, tapi juga harapan. Harapan bahwa dari puing-puing tragedi, bisa tumbuh pemahaman haru. Bahwa tidak ada eksperimen yang berbahaya daripada mengabaikan rasa sakit seseorang. Sebuah novel emosional, penuh refleksi, dan menyisakan satu pertanyaan di akhir setiap bab. "Seandainya seseorang mendengarkan, akankah akhir cerita ini berbeda?"
All Rights Reserved
#23
kegagalan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ARKALYA (END)
  • 𝐓𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐓𝐞𝐦𝐮 || 𝐎𝐧 𝐆𝐨𝐢𝐧𝐠
  • Cantikku Dibalik Kacamataku [On Going]
  • Story Red Eyes: Playing Eyes (END)
  • The Secret That Makes Me Grow [END]
  • Together, Against all Odds (T.A.A.O) (LENGKAP)
  • RAISA
  • Antara Cinta dan Takut [TERBIT]
  • Payback's Sweet

[Non-baku] "Gue gaakan lepasin lo gitu aja!" "Gue ngaku kalah." . . . Defalya Deynira, Gadis cantik dengan tubuh proporsional itu mulai memasuki kehidupan baru di lingkungan barunya. Ia menginjakkan kakinya kembali di kota Jakarta ini setelah sekian lama tinggal bersama kakek dan neneknya di negeri Paman Sam. Dengan berbekal bayangan sekolah di Indonesia dari cerita kakak laki-lakinya, ia pun akhirnya memutuskan untuk bersekolah di salah satu sekolah swasta dibandingkan memilih tawaran kedua orang tuanya yang menyarankan untuk home schooling. Namun, semuanya tidak akan berjalan selancar bayangannya, tanpa ia sadari, dengan memutuskan untuk bersekolah di sekolah swasta tersebut akan membuatnya merasakan hal-hal diluar dugaan yang dapat memporak-porandakan hatinya. Arka Fasha Aditama, Putra dari pemilik perusahaan besar yang sedang mendominasi ini dapat melumpuhkan ratusan hati wanita dengan parasnya yang hampir sempurna. Jabatan ketua osis yang dimilikinya membuat hari-harinya di sekolah selalu diisi dengan pujian dan sorakan dari banyak "penggemar"-nya. Namun, ia tetaplah seorang remaja SMA yang kehidupannya terisi dengan berbagai kenakalan remaja. Balapan, tawuran, dan pembullyan adalah kegiatan hariannya. Sampai suatu ketika, semuanya mulai berubah dengan adanya seseorang yang tidak direncanakan masuk ke dalam pikiran dan hatinya. ARKALYA, Entah akankah kedua remaja tersebut dapat bersatu dengan mudah seperti rangkaian nama diatas, atau kah akan ada yang menorehkan luka membekas pada salah satunya? Mereka terjebak, Terjebak dengan perasaan dan rangkaian pemikiran mereka sendiri. -Chipsta- Cover original pict from pinterest, edited by me;

More details
WpActionLinkContent Guidelines