Matahari Merah

Matahari Merah

  • WpView
    Leituras 36
  • WpVote
    Votos 4
  • WpPart
    Capítulos 4
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização qua, jun 18, 2025
WpInfo
Ficção
Temas Sociais
Discriminação e Bullying
Crescimento e autodescoberta
Di balik wajah damai sebuah negeri, luka rakyat menganga. Keadilan tak lagi datang dari penguasa, ia tumbuh dari mereka yang tertindas. Ketika hukum berpihak pada yang berkuasa, maka suara sunyi pun akan menggema dengan darah. Dan diam... bukan berarti menyerah. ⚠️Cerita fiktif belaka, semua murni imajinasi penulis. ⚠️Tidak ada sangkut paut/menyinggung pihak manapun.
Creative Commons (CC) Atribuição
#80
negara
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Syal Merah
  • NOESIS [END]
  • Be a Bad Girl (End)
  • Evelina Oriella Meliora [HIATUS]
  • Hi Crush! (udah selesai)
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)
  • Last Stand [Tamat]
  • Alicia Stories : In Another World
  • Langit Langit Damaskus Bersaksi

Lihatlah manusia.... makhluk berakal, katanya, tapi berakal hanya untuk merancang kehancuran dengan cara yang lebih efisien dari iblis manapun. Mereka lahir dengan tangan kosong, namun tumbuh dengan jemari yang tak pernah cukup menggenggam. Satu takhta tak cukup, satu negeri terlalu sempit, satu nyawa tak sebanding dengan harga ambisi. Mereka mencipta Tuhan dari kaca dan bayangan, lalu menjadikannya alasan untuk menyalakan api di rumah sesamanya. Lalu, ketika tubuh hangus terbakar, mereka berkata: "Ini takdir, ini suci." Padahal semua hanya siasat licik, untuk menjarah lebih banyak, menguasai lebih dalam. Di medan perang, tidak ada musuh sejati, hanya cermin-cermin retak yang saling menuduh bayangan masing-masing sebagai setan. Manusia menanam senyum di bibir diplomasi, sementara tangannya menandatangani pengiriman peluru ke tempat di mana anak-anak belajar menyebut "ayah". Dan ketika tanah itu retak oleh ledakan, dan langit pun tak sudi menurunkan hujan, mereka berkumpul di ruang rapat ber-AC, membahas damai yang bisa dijual dengan harga saham. Oh, manusia bukan makhluk sosial- mereka makhluk serigala yang diajari mengenakan jas. Mereka berdiri di atas kuburan sambil berkata: "Semua demi kemajuan." Apa makna "maju", jika harus melangkahi mayat? Apa artinya "kebebasan", jika harus dipaksa dengan moncong senjata? Mereka mencipta kata-kata indah- "perjuangan", "nasionalisme", "pengorbanan", tapi semuanya hanya selimut untuk menutupi nafsu kekuasaan yang menjijikkan. Sejatinya, manusia mencintai kehancuran- sebab di puing-puing itu, mereka bisa membangun kerajaan atas nama harapan, padahal fondasinya dari daging dan darah. Tak ada yang suci dalam perang. Tak ada yang heroik dalam membunuh. Yang ada hanyalah manusia- yang selalu lapar, selalu haus, selalu ingin menjadi Tuhan tanpa pernah bisa menjadi manusia,.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo