Regaz Xanders Louis, pria berusia 26 tahun, menjalani hidup yang tak mudah. Meski masih kuliah, ia bekerja keras siang dan malam demi mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Ia bukan hanya seorang suami, tapi juga seorang ayah-walau bukan secara darah.
Anak itu, Archio Gavriel Louis, atau yang akrab dipanggil Chio, telah ia besarkan sejak bayi. Chio bukan anak kandungnya, tapi darah bukanlah tolok ukur cinta bagi Regaz. Ia menerima Chio sepenuh hati, menyayanginya seperti darah daging sendiri.
Namun, rumah tangganya bersama Rachel Louise Malvine, sang istri yang kini berusia 24 tahun, tak pernah berjalan harmonis. Semenjak awal, Rachel menolak kehadiran Chio. Ia menolak percaya bahwa anak itu bukan hasil hubungan gelap Regaz dengan wanita lain, meski telah terbukti bahwa Chio adalah anak dari masa lalu Regaz yang diasuhnya setelah ibu kandungnya meninggal dan terbukti bukan anak biologisnya.
Rachel tetap menaruh dendam. Bagi Rachel, Chio adalah simbol pengkhianatan yang tidak pernah terjadi.
Meski mereka telah menikah dan tinggal serumah, Rachel menolak perannya sebagai ibu. Ia tak pernah menunjukkan kasih sayang pada Chio. Bahkan, bentakan demi bentakan menjadi makanan sehari-hari bagi bocah malang itu. Chio yang baru berusia lima tahun sudah terbiasa hidup dalam ketakutan di rumahnya sendiri.
Regaz hanya bisa menggenggam luka itu dalam diam. Di tengah jadwal kuliah dan pekerjaan yang menumpuk, ia tetap mengurus Chio seorang diri. Ia memandikan, menyuapi, menidurkan, dan menenangkan tangis Chio di malam hari-semua itu dilakukannya tanpa keluhan. Cinta dan tanggung jawab adalah dua hal yang tak pernah luntur dari hatinya.
Namun sampai kapan Regaz bisa bertahan? Dan sampai kapan Chio harus tumbuh dalam lingkungan yang dingin dan penuh penolakan?
NO COPY PASTE! INI MURNI PEMIKIRAN SENDIRI!!
All Rights Reserved