Ravern : Ambitious Boy

Ravern : Ambitious Boy

  • WpView
    Leituras 10
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Capítulos 1
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização ter, jun 10, 2025
WpInfo
Ficção
Romance
"Maaf karena Saya telah menjadi aib dalam keluarga ini." ==^^== "Mama, bisa tolong berhenti? Saya lelah. Saya hanya ingin istirahat." "Kau sekarang banyak mengeluh ya, Ravern? Mama cuma mau yang terbaik buat masa depanmu!" ==^^== "Ravern! Dasar anak kurang ajar! Kau itu sudah besar! Bersikaplah lebih dewasa! Contoh kedua Kakak laki-laki mu! Mereka tumbuh dengan mengharumkan nama keluarga! Sementara kau? Taunya hanya mencemarkan nama baik keluarga!" Aku lelah. Aku sangat lelah. Kenapa mereka harus meletakkan ekspektasi yang begitu tinggi di pundakku? Apa salahku? Aku telah berusaha semaksimal mungkin. ==^^== Ikuti kisah hidup Ravern. Rasa empati yang telah padam, meninggalkan ego dalam cangkang kosong. Bisakah Ravern memenuhi ekspektasi kedua orang tuanya? TTD : Oatmeal Macha
Todos os Direitos Reservados
#276
ambisius
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Brothers
  • Living with Brothers  [TAMAT]✓
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Become Baby Boy✓
  • MAS SUAMI (END)
  • HAGA : Becoming the Father of the Villain Twins
  • Luka Yang Tak kunjung Membaik
  • Ekspektasi
Brothers

"Kay! Pikirin lagi deh ide gila lo ini! Masa gue sama Ray harus pake seragam begituan. Lo sih enak masih pakai seragam Ray. Gue dan Ray gimana?" Aku dan kedua saudara kembarku sedang berdiskusi di kamarku. Ini pernah dilakukan seminggu yang lalu saat Kay mengatakan ide gilanya kepadaku dan Ray. "Gak bisa Fay! Kan udah kesepakatan." Kay itu keras kepala. Mungkin karena merasa lahir lebih dulu, jadi dia selalu ingin menang sendiri. "Tapi kan lo bisa tukeran sama Ray tanpa harus melibatkan gue Kay!" aku protes sedangkan Ray diam saja. Dia benar-benar lamban. Sampai-sampai perempuan yang mendekatinya saja dia tidak menyadarinya. Itu karena kelambanan otak berpikirnya. "Gak bisa Fay sayoong! Ray itu gak bisa basket. Dia itu atlet renang. Jadi selama dia sekolah di tempat gue nanti, dia bakalan kalah terus kalau tanding sama yang lain. Bisa-bisa reputasi gue hancur gara-gara permainan basketnya yang parah." Aku tahu Ray memang tidak suka berlari, karena itu dia tidak suka bermain basket denganku dan Kay. Kalau kita bertiga sedang bermain bersama, Ray lebih memilih menonton aku dan Kay yang sibuk mencuri bola drible. "Lagipula kesepakatan terakhir itu mutlak setelah kita mengundinya. Jadi ini gak bisa diganggu gugat lagi. Besok kita mulai penyamaran. Gue jadi Ray, lo Fay jadi gue, dan Ray jadi lo Fay." Kay sudah memulai sikap otoriternya. Kalau sudah begini, aku dan Ray hanya bisa pasrah. Semoga Ayah dan Bunda tidak menyadarinya. Ayah mungkin tidak akan menyadarinya tapi Bunda sepertinya harus diwaspadai.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo