"Kadang, dua orang yang patah harus dipaksa bertemu di tempat paling tidak romantis: ruang mesin dan tekanan deadline. Tapi siapa sangka, justru dari sinilah mereka menemukan arah pulang yang tak lagi mengarah ke masa lalu"
Ada orang yang hadir hanya untuk jadi jeda. Tapi ada juga yang datang untuk jadi titik temu.
Alesha Maritza Amelindra enggak pernah nyangka, tujuh tahun yang ia pertahankan bisa runtuh dalam satu kalimat:
"Maaf, aku jatuh cinta sama orang lain."
Patah hati yang terlalu panjang itu belum sempat sembuh saat ia harus berangkat magang ke PLTP Wayang Windu, Ciwidey, bersama teman-teman kampusnya. Sambil menahan sesak yang belum reda, Alesha mencoba menjadi versi dirinya yang biasa: ceria, cerewet, dan jadi tempat cerita semua orang. Tapi setiap malam, matanya tetap sembab. Setiap pagi, dadanya masih berat.
Lalu datanglah dia.
Fauzan Arkaveen Mahawira.
Mahasiswa Teknik Mesin dari politeknik sebelah yang katanya lebih mirip kulkas dua pintu daripada manusia. Dingin, cuek, dan terlalu pendiam. Tapi justru di mata Alesha, dia seperti diam yang hangat. Seperti tenang yang jarang sekali ia temukan.
Mereka datang dari dua dunia yang berbeda,Alesha dari keluarga hangat yang sederhana, Fauzan dari keluarga elit yang dingin dan penuh ekspektasi. Tapi saat hidup mempertemukan mereka di titik paling lelah, keduanya perlahan saling mengobati. Tanpa disadari, luka mereka saling menjahit. Tanpa rencana, hati mereka saling pulang.
Namun, masa lalu tidak tinggal diam.
Di antara trauma yang belum selesai, mantan yang belum benar-benar hilang, dan dunia yang memaksa mereka untuk kuat, mampukah keduanya menemukan arti "temu" yang sebenarnya?
Atau mungkin, mereka hanya dua torsi yang sedang berputar ke arah yang berbeda?
All Rights Reserved