Komplotan kocak

Komplotan kocak

  • WpView
    LECTURES 24
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 5
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication dim., juin 29, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Kisah lima sahabat, Ila, Alsa, Lia, Nur, dan Irin, anak kuliahan semester 6 di Jakarta yang tinggal satu rumah. Mereka adalah Komplotan Kocak dengan segala drama dan perbedaan karakternya. Ila yang tomboy dan jail, sering bikin ulah sampai dimarahi teman-temannya. Ada Alsa si random dengan jokes bapak-bapaknya. Lia yang receh dan ramah selalu jadi penengah. Nur yang pendiam tapi kadang jail dan mudah salting. Dan Irin, si mungil yang lapar mata, suka ngegas tapi sebenarnya baik hati. Setiap hari selalu ada tingkah kocak mereka, mulai dari pusingnya kuliah akuntansi, debat absurd. Mereka membuktikan, persahabatan sejati itu hadir di tengah perbedaan, tawa, dan kekonyolan yang tak ada habisnya.
Tous Droits Réservés
#328
teman
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Setala Gema
  • New Universe : Transmigration
  • Kanvas Kelabu ft. ITZY ot5 (END)
  • Rindro (SELESAI)
  • Princess In Rock
  • Don't Talk About Money
  • Arwa'ul Qulub (BERSAMBUNG)
  • Cegil Komplek [00L]
  • KERTAS DAN PULPEN PUTIH? (Complete)

"Kalau mau minta wawancara khusus apalagi minta putus ...." Jeda sesaat. Ilyas tersenyum menatap lawan bicaranya. "Syaratnya, kita harus kencan seharian. Masa, selama jadian kita nggak pernah jalan? Padahal kamu yang nembak, biarpun kamu sering pura-pura amnesia." Gara-gara ulah sahabat yang memakai nama dan telepon genggamnya untuk menyatakan cinta kepada seorang idola, Inara yang kena getahnya: ia terpaksa jadian dengan vokalis songong itu! Padahal, jurnalis remaja itu sudah jatuh hati kepada suara muazin yang kerap didengarnya setiap Sabtu malam ataupun Minggu subuh. Kalau boleh membandingkan, suara Ilyas yang seperti kaleng rombeng itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan suara muazin yang ia idolakan. Jauuuh sekali. Terlebih, dalam bayangan Inara, pemilik suara semerdu dan semenenangkan itu pasti tak hanya sekadar tampan sebagaimana Ilyas yang hanya bermodal 'bisa bikin cewek-cewek mimisan'. Bukan pula om-om, bapak-bapak, atau bahkan kakek-kakek seperti dugaan sahabatnya. Mungkin, Inara lupa sesuatu. Bukankah vokalis dan muazin sama-sama berurusan dengan suara?

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu