Badai Teduh

Badai Teduh

  • WpView
    Reads 226
  • WpVote
    Votes 35
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 6, 2025
WpInfo
Fiction
Mystery
Aku nggak tahu siapa dia. Datang-datang ke kios, manggil namaku seolah kami teman lama, terus pergi begitu saja kayak angin. Kupluknya kusam, bajunya kusut, dan... entah kenapa aku tetap ingat matanya. Satu lebih kecil dari yang lain. Nyebelin. Dia muncul di saat yang nggak masuk akal-waktu aku kesulitan bawa sayur, waktu aku kelelahan, waktu aku nyaris takut. Dan setiap kali aku tanya, dia cuma jawab dengan senyum sok akrab dan kalimat-kalimat yang bikin aku makin bingung. Sialnya, dia tahu hal-hal yang bahkan temanku sendiri nggak tahu. Tentang ayahku. Tentang masa kecilku. Tentang hal-hal yang bahkan aku lupa. Tapi setiap kali aku hampir dapat jawabannya, aku malah... bangun. Kayak baru mimpi. Tapi buktinya selalu nyata. Lalu ibu cerita sesuatu yang lebih gila lagi: aku punya saudara kembar. Meninggal waktu kecil. Dan dari situ, semuanya mulai terasa makin kacau. Dia datang kayak badai-tiba-tiba, gangguin hidupku, dan pergi sebelum aku sempat marah lebih jauh. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang pelan-pelan aku sadari. Mungkin dia datang bukan cuma untuk bikin aku kesal... tapi untuk mengingatkan aku tentang sesuatu yang pernah hilang. Termasuk diriku sendiri.
All Rights Reserved
#28
ghaib
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Grey Of SAKARUNA
  • [END] WHAT WE HAVE PASSED TOGETHER?
  • GABRIEL
  • GORESAN HATI
  • No Longer Mate
  • KENNARD - Living with the Bad Boy
  • SELEPAS KAU PERGI (COMPLETED)
  • Senja Yang Tak Kembali
  • Glitch

Entah siapa yang bisa benar-benar menebak apa yang ada di pikirannya? Kadang, aku merasa kami sedekat nadi-tak terpisahkan oleh ruang atau waktu. Namun, di lain waktu, rasanya seperti tak pernah ada apa-apa di antara kami. Dia melenggang ke sana kemari, seolah aku tak lebih dari bayang-bayang yang tak terlihat. Tapi anehnya, di saat tertentu, dia menggeliat di sisiku, seperti tak akan bisa bertahan hidup tanpa kehadiranku. Hingga kini, aku masih tak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya. Keluh kesahnya, tawa kecilnya, dan tingkah manjanya yang dulu terasa akrab kini hilang begitu saja, bagai debu yang diterbangkan angin. Dua belas tahun kebersamaan kami, mengapa rasanya bisa terhapus hanya dalam tiga tahun? Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa segalanya memang memiliki waktunya masing-masing. Bahwa perubahan ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. "Ini bukan masalah besar," gumamku berkali-kali. Namun, hati kecilku tak pernah benar-benar berhenti bertanya, mengapa? Hal yang paling membuatku kesal adalah kebiasaannya yang kini berubah menjadi teka-teki. Dia datang kepadaku, tapi hanya ketika dia butuh. Saat lapar menghampirinya, saat kesedihan melingkupinya, atau ketika kebosanan menjeratnya. Dia akan muncul tiba-tiba, menghancurkan keteraturanku, mengacak-acak ketenanganku, lalu pergi tanpa sepatah kata pun. Maksudnya apa? Aku benci dibuat bingung seperti ini. Aku benci bagaimana dia membuatku merasa diperlukan, hanya untuk kemudian membuatku merasa tak berarti. Namun di balik semua rasa kesalku, aku tak bisa mengingkari satu hal: aku tetap menunggunya. Dia adalah Saka, sebuah misteri yang tak pernah bisa kuselesaikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines