Badai Teduh

Badai Teduh

  • WpView
    Reads 226
  • WpVote
    Votes 35
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 6, 2025
Aku nggak tahu siapa dia. Datang-datang ke kios, manggil namaku seolah kami teman lama, terus pergi begitu saja kayak angin. Kupluknya kusam, bajunya kusut, dan... entah kenapa aku tetap ingat matanya. Satu lebih kecil dari yang lain. Nyebelin. Dia muncul di saat yang nggak masuk akal-waktu aku kesulitan bawa sayur, waktu aku kelelahan, waktu aku nyaris takut. Dan setiap kali aku tanya, dia cuma jawab dengan senyum sok akrab dan kalimat-kalimat yang bikin aku makin bingung. Sialnya, dia tahu hal-hal yang bahkan temanku sendiri nggak tahu. Tentang ayahku. Tentang masa kecilku. Tentang hal-hal yang bahkan aku lupa. Tapi setiap kali aku hampir dapat jawabannya, aku malah... bangun. Kayak baru mimpi. Tapi buktinya selalu nyata. Lalu ibu cerita sesuatu yang lebih gila lagi: aku punya saudara kembar. Meninggal waktu kecil. Dan dari situ, semuanya mulai terasa makin kacau. Dia datang kayak badai-tiba-tiba, gangguin hidupku, dan pergi sebelum aku sempat marah lebih jauh. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang pelan-pelan aku sadari. Mungkin dia datang bukan cuma untuk bikin aku kesal... tapi untuk mengingatkan aku tentang sesuatu yang pernah hilang. Termasuk diriku sendiri.
All Rights Reserved
#35
duadunia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • in ROOM
  • MY PETERPAN ALEN
  • GABRIEL
  • Senja Yang Tak Kembali
  • Cerita Tentang Kita
  • Middlemost | ENHYPEN ✔
  • [END] WHAT WE HAVE PASSED TOGETHER?
  • M E M O R Y  (On Going)
  • Kelas A [End]
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
in ROOM

Apa yang kau lakukan jika setiap harinya kau terbangun di ruangan yang tidak kau kenal di dalam sebuah fasilitas layaknya seorang pasien-tahanan? Apa yang kau lakukan jika ada rentang memori yang hilang dalam benakmu? Apa yang kau lakukan jika kegiatanmu dalam delapan jam kedepan akan kau lupakan meski kau tak berniat untuk itu? Dan apa yang kau lakukan jika petunjuk yang kau punya hanya tiga kalimat yang terus berdengung dalam kepalamu, 'Ada sesuatu ditubuhmu.' 'Kau lihat, jangka waktu memorinya hanya sekitar tujuh jam.' 'Terlalu berbahaya membedah otaknya.' Aku mengalaminya... Entah berapa tahun aku seperti ini, dan aku bahkan tak pernah melihat wajahku lagi sama sekali. Tidak ada cermin, tidak ada petunjuk waktu yang jelas, dan tidak ada istriku disini. Dan itu terjadi hari demi hari. Hingga suatu hari, kesempatan untuk 'cari tahu' itu datang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines