Reila, perempuan yang kuat di mata semua orang-keras, tak tersentuh, dan selalu berdiri sendiri. Tidak ada yang benar-benar tahu bahwa di balik dinding tak terlihat yang ia bangun, ada kekosongan yang perlahan menelan dirinya.
Lalu hadir Marvin. Cowok dengan cara bicara santai, mata tajam yang tak mudah dibohongi, dan sabar seperti laut yang menunggu badai reda. Semakin Reila menjauh, semakin Marvin tetap tinggal. Ia tidak menembus dinding itu dengan paksa, tapi menunggu-hingga retaknya cukup besar untuk dia masuk dan duduk di sisi paling sunyi Reila.
Namun, ketika kedekatan itu membuat Reila goyah, ia justru ketakutan. Bukan takut kehilangan Marvin, tapi takut terlihat lemah di depan satu-satunya orang yang justru ingin memeluk kelemahannya.
"Kenapa kamu nggak pernah terlihat kuat kalau lagi sama aku?" tanya Marvin dengan hati-hati.
"Karena kamu... Bukan semua orang."
"Dan kamu, Reila. Nggak harus jadi kuat setiap waktu. Biar aku yang jagain bagian rapuhnya."
Dewandra telah memantapkan hati untuk tidak pernah menikah. Selama 25 tahun, ia mengabdikan hidup sebagai tentara setia demi melindungi negara. Hingga di usia 41 tahun, ia diangkat menjadi pemimpin tertinggi-menyandang status RI 1.
Dua tahun menjabat pasca-lengsernya sang ayah yang merupakan Presiden ke-8, Dewandra tetap tak sedikit pun terusik oleh bayangan pernikahan. Namun, takdir rupanya punya rencana lain.
Pada perayaan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2025, matanya tak sengaja menangkap sosok gadis berkebaya putih dengan kain batik merah. Rambutnya tergerai indah, dihiasi senyum manis yang menawan. Meski hanya tatapan sekilas, wajah itu seolah tertanam permanen dalam ingatannya.
Gadis itu adalah Natasha Aira Van-dijk Chandramukhti-putri tunggal dari salah satu menteri di kabinetnya sendiri.