April 1-100

April 1-100

  • WpView
    Reads 159
  • WpVote
    Votes 40
  • WpPart
    Parts 96
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 14, 2025
April selalu datang sebagai musim antara: bukan benar-benar akhir, bukan sungguh-sungguh awal. Ia membawa hujan dan cahaya bersamaan. Dalam bulan ini, kenangan tumbuh seperti jamur di sela-sela sunyi. Kumpulan sajak ini lahir dari luka, kehilangan, rindu, dan pelan-pelan-pemulihan. Ada getir, ada diam, ada yang tak sempat dikatakan. Namun lewat kata-kata, barangkali kita bisa mengurai benang kusut yang ditinggalkan seseorang. Ini bukan buku untuk menyalahkan. Ini adalah buku untuk mengingat, lalu melepaskan. Satu demi satu. Perlahan.
All Rights Reserved
#925
april
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • Biarkan aku yang pergi
  • A Love Lost Beneath the Blue
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)
  • Aksa Amerta
  • Kisah Kita Dan Hujan
  • Bait-Bait Semesta
  • Skenario Pematah Hati

Aku percaya cinta adalah sebuah pelukan hangat, bahkan di tengah gemuruh hujan. Tapi siapa sangka, pelukan yang sama kini meninggalkan dingin di tubuhku? Kamu meninggalkanku, dan aku tak pernah siap untuk kehilanganmu. Kehilanganmu bukan sekadar perginya seseorang dalam hidupku. Kehilanganmu adalah tentang diriku yang kian merapuh, bagian-bagian dari diriku yang tercerai-berai, seperti serpihan kaca yang tak tahu bagaimana akan kembali utuh. Aku mencoba menulis surat untukmu, berharap kata-kata bisa menggantikan kehadiran yang hilang. Namun, setiap huruf yang kutulis, hanya menambah luka, mengingatkanku pada rindu yang tak akan pernah sampai kepadamu. Mungkin, mencintaimu adalah keindahan sekaligus kutukan. Sebuah hadiah yang diiringi keperihan tanpa akhir. Dan di sinilah aku, yang dalam diam melangitkan namamu. Untukmu, yang kucintai dengan penuh Namun tak pernah menyadari kehadiranku. Buku ini sengaja ditulis untuk nama yang selalu kulangitkan namun enggan untuk menyambutku, yang hadirnya pernah membuat duniaku mekar dengan indah, yang kehilangannya membuat diriku merapuh bersama serpihan luka yang ia tinggalkan. Dan buku ini sekaligus dedikasi untuk mereka yang pernah kehilangan, untuk hati yang berani mencintai meski tahu akan terluka. Karena di balik setiap tetesan air mata, selalu ada cerita yang layak untuk diceritakan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines