
"Tuhan telah mati. Tapi kota ini tetap menyembah sesuatu seperti uang, seks, kekuasaan, dan citra. Di tengah altar-altar palsu itu, seorang manusia mencoba menjadi dirinya sendiri." Seorang pemuda, tiba dikota ini dengan impian sederhana: Lulus di Universitas ternama dan menjadi orang berguna. Namun, yang ia temukan hanyalah kebisingan, kemunafikan, dan kekosongan. Kota itu, dengan gedung-gedung pencakar langitnya, memelihara para dewa palsu seperti influencer yang haus validasi, politisi yang menjual keadilan, dan aktivis yang menjual idealisme demi donasi. Ia mencoba bertahan dengan menulis artikel lepas, sesekali tidur dengan perempuan yang tak ia kenal namanya, dan menenggak alkohol murah sambil mencari "makna". Tapi semakin lama, ia terseret lebih dalam-ke pesta-pesta elit, transaksi bawah tanah, dan absurditas moral yang membuatnya muak. Di tengah kekacauan itu, ia bertemu seorang pekerja seks profesional yang justru lebih jujur dari semua orang yang pernah ia kenal. ia bukan korban. Ia tahu siapa dirinya, dan menolak untuk ikut main dalam permainan "kehidupan normal". Arka belajar menerima satu kebenaran brutal yaitu tidak ada makna objektif. Hidup adalah ketiadaan, dan siapa pun yang ingin bertahan harus menciptakan makna sendiri atau hancur. Dari titik inilah, Raka mulai berubah. Ia membuang idealismenya yang lama. Ia menolak menjadi korban, juga pahlawan. Ia tidak ingin "diselamatkan" ia ingin berkuasa atas dirinya sendiri. Dalam perjalanan dekonstruksi itu, ia menjelma menjadi sosok baru: sinis, liar, tanpa kompromi. Ia menghancurkan norma, cinta, dan dirinya sendiri demi menciptakan ulang versi dirinya yang otentik. Tapi menjadi manusia merdeka di kota ini bukanlah kemenangan. Itu adalah perang tanpa akhir. Dan Arka harus memilih antara menjadi monster yang bebas, atau manusia baik yang mati pelan-pelan. "Kota ini tidak butuh manusia yang baik, tapi hanya butuh manusia gila yang mampu mengubah semua"All Rights Reserved
1 part