"serpihan memory"
alara hidup dalam diam, di kedai bunga kecil yang berdiri tenang di sudut kota. setiap kelopak yang ia sentuh adalah pengingat bahwa keindahan bisa tumbuh dari kehilangan. ia tak punya banyak kata, tapi hatinya penuh cerita yang tak pernah benar-benar selesai.
raksha, seorang barista sekaligus pemilik coffee shop, hidup dengan caranya sendiri: tenang, dingin, tapi tak pernah benar-benar damai. ia menyeduh kopi seperti menyeduh masa lalu-perlahan, tanpa suara, berharap getirnya bisa ia sembunyikan dalam kehangatan secangkir minuman.
mereka bertemu di bawah langit jingga, bukan untuk jatuh cinta... tapi untuk saling menjadi tempat pulang yang tak sengaja ditemukan.
bersama raya yang tertawa di tengah kesepian, sora yang menyimpan dunia dalam pandangan mata yang dalam, dan sagara, sahabat raksha yang tahu betul bagaimana rasanya ditinggal saat masih ingin dipeluk-mereka adalah lima jiwa yang terhubung oleh luka yang tak kasat mata.
ini bukan cerita tentang cinta yang gemerlap, tapi tentang hati-hati yang remuk, dan bagaimana serpihan memori yang berserakan bisa saling menemukan tempat untuk pulih.
karena kadang, satu-satunya yang dibutuhkan manusia... bukan pelukan, bukan janji, tapi kehadiran yang tetap tinggal-meski dunia terasa berat.
All Rights Reserved