Ada hal-hal yang sulit dijelaskan, bahkan kepada diri sendiri.
Seperti mengapa aku merasa aman saat bersamanya. Tak ada kalimat manis, apalagi sapaan hangat seperti yang biasa kutemui dari teman-temanku yang lain. Tapi entah kenapa, kehadirannya selalu terasa cukup.
Dia bukan tipe yang memanjakan dengan perhatian mencolok. Tapi caranya memperlambat langkah saat aku tertinggal, atau tiba-tiba menepi saat aku diam terlalu lama, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku tahu, dia memperhatikan.
Kadang dia menatapku sebentar, lalu kembali menatap jalan. Tak ada pertanyaan keluar dari mulutnya, tapi dari caranya menjaga jarak yang nyaman, dari caranya menyodorkan jaket tanpa diminta, atau meminjamkan earphone tanpa bertanya, seolah ada kalimat yang ingin dia sampaikan dalam diamnya,
"Aku tahu kamu sedang butuh tenang."
Aku pernah bertanya pada diri sendiri, sejak kapan diam bisa terasa begitu dalam? Sejak kapan ketenangan itu tak lagi datang dari keramaian, melainkan dari seseorang yang nyaris tak pernah memulai percakapan?
Ternyata, sejak aku mengenalnya.
Sejak aku memahami bahwa ada orang-orang yang tak pandai bicara, tapi tulus menjaga. Yang tak tahu cara menenangkan lewat kalimat, tapi tahu cara hadir tanpa mengusik. Yang tak pernah menyatakan peduli, tapi selalu ada saat aku butuh.
Dan dari semua yang pernah kurasakan, mungkin inilah yang paling membuatku bertahan dalam ketidakpastian karena dalam diamnya aku merasa dipahami, tanpa harus menjelaskan apa-apa.
All Rights Reserved