Vanillagam

Vanillagam

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadComplete Sat, Jul 11, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Slice of Life
College and University
First Love
Ada orang-orang yang hidupnya seperti panggung - selalu terang, selalu ramai, selalu ada yang menonton. Dan ada orang-orang yang hidupnya seperti tembok di lorong sempit - jarang dilihat, tapi justru di situlah hal-hal paling jujur biasanya ditulis. Vanilla selalu percaya dia adalah tembok itu. Tempat yang tidak dicari orang, tapi menyimpan sesuatu yang nyata jika ada yang mau berhenti sejenak untuk melihat. Dia tidak pernah menyangka ada orang dari dunia panggung yang akan berhenti. Bertahun-tahun kemudian, ketika semua orang bertanya bagaimana kisah mereka bisa dimulai, Vanilla akan selalu menjawab hal yang sama. "Dia nemu tempat sembunyiku. Dan aku nggak pernah sembunyi lagi setelah itu." Tapi itu cerita di ujung. Yang ini, cerita dari awal - dari sebuah tembok, sekaleng cat yang belum kering, dan seseorang yang datang bukan untuk dilihat, tapi untuk melihat. Tembok itu sudah jadi rahasianya.
All Rights Reserved
#767
seni
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Círculo del Destino
  • GARWO KINASIH SANG DALANG (DELETE SEBAGIAN)
  • The Last Yes!
  • The Mafia's Sinful Obsession
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Sweetly Tied
  • EINSTEIN [END]
  • Mulih (END)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines