No Rain That Day

No Rain That Day

  • WpView
    Reads 51
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 1, 2026
Kami menunggu. Sebuah ledakan emosi, sebuah kepastian. Tapi seperti langit yang menahan hujan, semuanya hanya menggantung. Lalu menghilang. Di kota yang tak pernah benar-benar tidur, Naira menjalani hari-harinya di balik aroma kopi dan suara mesin penggiling yang berulang. Gadis dua puluh tahun itu datang dari desa dengan bekal keberanian, senyum manis, dan tangan yang piawai meracik kopi. Namun, ada hal lain yang membuatnya berbeda - kebiasaannya menulis pesan kecil di secarik kertas dan menyelipkannya di setiap cangkir pesanan. Baginya, setiap orang yang datang ke kedai mungkin sedang menanggung sesuatu: pikiran yang lelah, perasaan yang menyimpan iri, atau hati yang tak sempat sembuh. Maka, lewat surat-surat kecil itu, Naira berharap bisa memberi sedikit ruang bernapas bagi mereka yang nyaris menyerah. Sampai suatu hari, secarik surat itu jatuh ke tangan seseorang yang tak pernah ia duga - seorang pemuda kaya dengan tembok sosial setinggi langit dan kehidupan yang berjarak dari dunia sederhana miliknya. Pertemuan itu seharusnya biasa saja, namun ternyata menjadi awal dari perubahan yang tak terencana, sekaligus kenangan yang tak akan pernah sama lagi. Hari itu seharusnya turun hujan. Tapi langit diam. Dan sejak saat itu, Naira tahu - tidak semua pertemuan butuh takdir, kadang cukup sedikit keberanian untuk menatap yang tak seharusnya dimiliki. Cover: AI
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • De Andere Weg (END)
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • The Villain's Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines