Saskara, Athalia

Saskara, Athalia

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Sat, Mar 7, 2026
Aku tak sedang ingin jatuh cinta. Bahkan, aku tak ingin membuka hati. Karena terlalu banyak luka yang belum sempat dijahit, terlalu banyak janji yang dulu terucap hanya untuk ditinggalkan. Hatiku retak dalam diam, dan aku belajar menyembunyikan tangis di balik senyum yang terlihat kuat. Lalu... dia datang. Bukan dengan kata-kata manis atau janji-janji langit. Dia datang dengan tenang, tak memaksa. Hanya duduk di samping luka-lukaku. "Aku tahu kamu takut," katanya suatu malam. "Tapi kamu nggak sendiri." Entah bagaimana, perlahan, duniaku yang sempit mulai terasa lapang. Aku mulai tersenyum bukan karena menutupi sakit, tapi karena bahagia itu benar-benar terasa... nyata. Dia tak pernah memaksaku untuk percaya. Tapi dia sabar menunggu sampai aku bisa percaya lagi. Bukan hanya pada cinta, tapi pada diriku sendiri. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berani bilang: "Aku tak sedang ingin jatuh cinta... tapi entah sejak kapan, aku jatuh... dan kamu ada di bawah sana, menampungku."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines