Silent Rebirth

Silent Rebirth

  • WpView
    Reads 902,385
  • WpVote
    Votes 43,829
  • WpPart
    Parts 38
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 22, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Di ambang kematian, ia justru diberi hidup sekali lagi. Seorang gadis yatim piatu berusia sepuluh tahun kehilangan nyawanya secara tragis-ditabrak oleh pengemudi mabuk saat tengah membeli susu stroberi kesukaannya. Namun alih-alih menuju akhir, takdir menulis ulang kisahnya. Ia terbangun dalam tubuh seorang bayi perempuan berusia enam bulan. Kehidupan barunya penuh kehangatan. Dikelilingi oleh tangan-tangan yang menyayanginya, ia seperti menemukan rumah yang tak pernah ia miliki dulu. Tapi tidak semua hati terbuka untuknya. Ayah kandungnya sendiri, seorang remaja yang terlalu muda untuk memahami arti menjadi orang tua, menolak keberadaannya. Terjebak oleh permainan seorang perempuan licik, ia memandang bayi itu sebagai simbol dari masa lalunya yang rusak-bukan sebagai anaknya sendiri. Namun waktu berjalan. Dan seperti halnya musim, hati pun bisa berubah... atau justru semakin membeku?
All Rights Reserved
#667
acak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Unprofessional Diagnosis [END]
  • The Time
  • (END) Istri Manis Jenderal Perang
  • JEJU Couple (End)
  • album sasusaku
  • I love you, I'm sorry
  • Hard to Believe
  • Pernikahan di Balik Mahkota [END]
  • This Time I Will Save Your Live, Boss!
  • The Antagonist  (Completed)

Mentari Kusumawardani (35) menganggap hidup adalah sekumpulan angka dan jadwal yang harus presisi. Hitam, pahit, dan efisien, seperti espresso yang ia minum setiap jam enam pagi. Baginya, cinta hanyalah kesalahan manajemen emosi yang tidak menguntungkan, terutama setelah tunangannya memilih tidur dengan adiknya sendiri. Namun, tubuh Mentari tidak sejalan dengan logikanya. Setelah menyelesaikan rapat penting dan memastikan semuanya berjalan sempurna, ia justru jatuh pingsan. Di rumah sakit, ia bertemu dengan dokter Rangga Aditya, seorang spesialis penyakit dalam yang tidak peduli pada sopan santun. Rangga tidak memberikan resep obat. Ia memberikan penghinaan. Menurutnya, penyakit Mentari sederhana, ia terlalu gila kerja dan lupa cara menjadi manusia. Rangga mendiagnosis hidupnya, bukan sekadar detak jantungnya. Di antara jadwal audit perusahaan dan kontrol rumah sakit, Mentari dipaksa menghadapi satu kenyataan yang selama ini ia hindari. Bertahan hidup tidak selalu berarti menjadi kuat, dan berhenti bukan selalu bentuk kegagalan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines