Novelis Koplak

Novelis Koplak

  • WpView
    Reads 195
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 31
WpMetadataReadComplete Sat, Jul 12, 2025
[Lengkap] Yudha, seorang penulis receh berumur 28 tahun yang belum pernah pacaran serius, bersumpah akan berhenti menulis jika belum juga jatuh cinta di tahun ini. Ucapannya itu menarik perhatian seorang pembaca kritis dan tajam lidah bernama Ajeng, mantan penulis yang kini jadi editor di sebuah penerbit. Dari debat di kolom komentar blog, berlanjut ke debat langsung di rak novel. Dari saling sindir, tumbuhlah ide "gila": mereka pura-pura pacaran selama 30 hari demi eksperimen menulis kisah cinta realistis, dan membantu Ajeng keluar dari perjodohan orang tua. Di antara naskah kocak, puisi koplak, dan obrolan larut malam, keduanya mulai menyembuhkan luka masing-masing. Tapi mampukah cinta yang dimulai dari akting bertahan saat kenyataan menampar? "Novelis Koplak" adalah kisah komedi tapi manis tentang dua orang yang sama-sama takut jatuh cinta, tapi jatuh di tempat yang salah-tepat di antara tanda baca dan tawa. 🥇#1 perasaan 11/07/2025
All Rights Reserved
#19
pacarankontrak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines