Tidak ada yang pernah benar-benar siap kehilangan seorang anak. Kirana melahirkan... lalu pulang dari rumah sakit dengan tangan kosong. Sejak hari itu, hidupnya seperti berhenti. Hari-harinya sunyi. Dan hatinya tertinggal di satu titik yang tak bisa ia lewati. Di saat yang sama, kehidupan Arya justru berada di puncaknya. Sebagai dalang yang namanya semakin dikenal, panggung demi panggung memanggilnya, disambut tepuk tangan, dipuja penonton. Namun di balik gemerlap itu, rumahnya perlahan kosong. Kesunyian menemukan celah. Dan dari panggung yang sama, seorang sinden bernama Rarasati hadir... terlalu dekat. Kirana tidak langsung menyadarinya. Ia terlalu sibuk berduka. Sampai akhirnya, ia mulai melihat sesuatu yang tak bisa lagi diabaikan. Tidak ada tangisan. Tidak ada amarah. Dengan tenang... dan harga diri yang utuh, Kirana memilih bangkit. Ia kembali bekerja. Pp dirinya dari nol. Dan di sanalah ia bertemu Dana, seorang lelaki yang tidak pernah memaksa, namun perlahan mengisi ruang yang selama ini kosong. Saat Arya akhirnya tersadar, semuanya sudah terlambat. Karena ada satu hal yang paling menakutkan bagi seorang lelaki: seorang perempuan tidak selalu pergi karena orang lain... kadang ia pergi karena hatinya... sudah selesai.
More details