Kala hening menemani, terdapat eksistensi bergerak lemah di atas selimut. Kelopak mata yang dihiasi bulu lentik, bergetar, seiring terbuka perlahan. Gelombang samar terlihat pada dahinya, mencerna berbagai pertanyaan yang mulai terlintas diotaknya.
"Mama?"
Suara seperti cicitan anak burung itu, menambah kerutan sang wanita. 'suara siapa?' pikirnya. Berkedip dengan tujuan menetralkan cahaya lampu yang menyorot tajam ke arahnya, setelah merasa sesuai, ia perlahan menoleh ke sumber suara cicitan tersebut.
"Mama, sudah sadar." itu bukan pertanyaan namun pernyataan bernada lega.
Heran, tak pernah terlintas di ingatannya wajah itu. siapa, dia?
"Kamu siapa, nak? dan.. ini dimana?" Meski tenggorokannya terasa seperti disayat-sayat, ia tetap berusaha menyuarakan pertanyaan yang sedari tadi berkabung kusut dipikirannya.
"Ya?"
•••
Entah bagaimana hal ini bisa terjadi. Puput hanya mengingat, ia yang sedang menyeduh kopi sebagai teman lemburnya di dapur kantor malam itu, setelahnya gelap. ia tak mengingat apapun lagi.
Dan sekarang, ketika ia membuka matanya, hal pertama yang menyapa panca inderanya adalah seorang anak lelaki. maaf- kurang terurus, seperti korban penculikan yang dijadikan pengemis jalan. Ia tak melebih-lebihkan, itu jujur. Anak tersebut sungguh tak terurus, namun anehnya, sang anak tatap kuat berdiri di atas kaki yang seakan akan jika di tiup saja, ia bisa terbang. sungguh-sungguh kurus!
DISCLAIMER!! ⚠️
Karya fiksi buatan saya, bahasa yang saya gunakan semi-baku ya best, ilustrasi tempat tidak bersangkutan dengan dunia nyata, mengandung kata-kata kasar serta adegan yang tak patut untuk ditiru, serta terdapat typo yang bertebaran (mohon maklumi)
All Rights Reserved