HAPPINESS FOR ECHI

HAPPINESS FOR ECHI

  • WpView
    Reads 79,573
  • WpVote
    Votes 5,960
  • WpPart
    Parts 31
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 15, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Ten mengusap perutnya yang membuncit, matanya menerawang kosong. Bukan kebahagiaan yang terpancar, melainkan gurat cemas dan penolakan. Sejak dokter mendiagnosis calon anak keduanya memiliki riwayat mental, dunia Ten seolah runtuh. Harapan akan keluarga sempurna yang ia impikan hancur berkeping. Bayangan akan tawa dan keceriaan seorang anak kini tergantikan oleh ketakutan akan beban dan stigma. Setiap tendangan kecil di dalam rahimnya terasa seperti pengingat pahit akan kenyataan yang tak diinginkan. Ia mencoba mencintai, mencoba menerima, namun bayangan akan masa depan yang sulit selalu menghantuinya. Bisikan-bisikan keraguan tak henti membisiki, "Bagaimana jika ia tak bisa merawatnya? Bagaimana jika ia tak sanggup?" Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar, mengikis sedikit demi sedikit sisa kasih sayang yang seharusnya tumbuh. Anak kedua yang sedang ia kandung ini, bagi Ten, adalah sebuah "ketidakinginan" yang menyakitkan. Sebuah takdir yang terasa begitu berat, dan di lubuk hatinya, ia berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir. Ia mencintai anak sulungnya, namun untuk yang kedua ini, hatinya terasa beku, diselimuti ketakutan dan penolakan yang dalam.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Salah Status [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Kembang Desa
  • Prahara Lamaran [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines