3. Kala Hujan Membawamu | Heehoon

3. Kala Hujan Membawamu | Heehoon

  • WpView
    Reads 1,617
  • WpVote
    Votes 143
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 19, 2026
Sunghoon mencintai hujan, bukan karena romantisme, tapi karena hanya hujan yang tak pernah menuntutnya bahagia. Setelah kehilangan segalanya, ia hidup sepergi bayangan: diam tenggelam dalam sepi, dan menyatu bersama langit kelabu. Sampai suatu hari, seorang laki-laki bernama Heeseung datang. Bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk duduk diam di sampingnya dan menjadi tempat berteduh yang tak pernah ia minta. Sebuah kisah tentang kehilangan, keheningan, dan bagaimana dua hati bisa saling menemukan di antara rintik hujan. ----- Genre: slice of life, slowburn, hurt/comfort, romance, healing.
All Rights Reserved
#395
heehoon
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Salah Status
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Prahara Lamaran [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Nakula

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines