KUASA
  • WpView
    Reads 42
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 17, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Sebuah cerita pasti memiliki satu hal yang sama, penokohan. Momen pencarian pengakuan atau penebusan dosa. Momen ketika tokoh utama menyadari bahwa apa yang ia lihat bukanlah segalanya. Bahwa apa yang ia yakini bukanlah keseluruhan cerita. *** "Apakah penyesalan yang membuatmu kembali?" "Mungkin saja." "Apakah ini sebuah kesempatan untukmu?" Artha menggigit bibir bawahnya, nadanya bergetar ketika ia bertanya kembali, "Apakah ini penghukuman untukmu atau untuk diriku?" Wanita di depannya itu terdiam. Mata gelapnya yang terlihat bersinar dari pantulan cahaya bara api tampak sendu. Bibirnya bergerak lirih, "Aku tidak tahu." *** Ardian hanya ingin menolongnya. Akan tetapi, usahanya terasa sulit sekali ketika orang yang ingin ia selamatkan malah merasa bahwa dirinya layak dihukum. "Penghukuman terjadi jika seseorang terbukti melakukan kesalahan, Tha. Coba pikir, jika permintaan maaf hanya bisa dilakukan oleh orang yang bersalah, lalu bagaimana bisa diterima oleh siapapun kecuali orang yang dirugikan?" ***
All Rights Reserved
#4
gifted
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Time
  • I'm Not Just a Figuran
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GRAVARENZO
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GHAIKA (REVISI)
  • Tsundere Maniak Susu [DITERBITKAN]
  • Transmigrasi Ziora
  • EVANESCENT (HIATUS)
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines