We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Di bawah langit yang sama

Di bawah langit yang sama

  • WpView
    Reads 188
  • WpVote
    Votes 91
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 24, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Aksa, pria dengan senyum hangat dan sorot mata yang menyimpan lebih dari sekadar ketampanan; anak kedua dari keluarga Kristen yang taat, dan hidup mapan. Dibesarkan dalam nilai-nilai agama yang kuat dan jalur hidup yang telah tertata rapi termasuk pasangan hidup yang sejalan dan seiman. Dan Aira, gadis muslim yang manis dengan mata bulat jernih seolah seperti tak ada rahasia yang tersembunyi di baliknya, pekerja keras yang bertekad membahagiakan keluarga di kampung. Aksa dan Aira tidak pernah merencanakan apa-apa. Mereka hanya bertemu sekilas dan untuk alasan yang entah kenapa, sulit dilupakan. Tidak ada yang benar-benar menduga kapan perasaan itu mulai tumbuh. Mungkin saat tatapan pertama yang hanya beberapa detik, atau ketika senyum sederhana berubah menjadi percakapan ringan yang tidak ingin segera diakhiri. Kadang, perasaan datang begitu saja di saat tak terduga, pada orang yang bahkan tidak pernah masuk dalam bayangan. Dan ketika mereka mulai menyadari bahwa rasa itu bukan sekadar ketertarikan sesaat, semuanya menjadi lebih rumit. Perbedaan itu akhirnya muncul ke permukaan, perlahan tapi pasti. Tentang Tuhan yang mereka sembah dengan nama yang berbeda, dan juga soal prinsip hidup yg sudah mereka jalani selama hidup. Semakin dalam perasaan itu tumbuh, semakin berat pula kenyataan yang harus dihadapi. Ini bukan kisah tentang siapa yang salah atau siapa yang benar. Ini tentang bagaimana cinta mengajarkan ketulusan dan kekuatan hati. 'dia sedang berbicara dengan Tuhannya. Tuhan yang selama ini bukan tuhanku.' **Disclaimer ini pertama kalinya berani publish cerita, mohon maaf jika banyak kekurangan 🙏🏻, cerita ini murni dari pemikiran pribadi, kurang lebihnya silahkan saran dan kritiknya🤗
All Rights Reserved
#72
kisahmanis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Kembang Desa
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Nakula
  • Salah Status [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines