Setengah Kopi

Setengah Kopi

  • WpView
    Reads 1,419
  • WpVote
    Votes 48
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 28, 2015
WpInfo
Fiction
Romance
Novel ini saya buat tahun 2015 dan telah saya remake ulang di tahun 2021 ini. Semoga kalian menikmati ulang novel ini. _________________________________ Wanita itu menatapnya dalam diam. Tapi pikirannya berjaga-jaga. Berharap lelaki yang gemar menyumbu bibir cangkir kopi itu tak melumat lidahnya. Itu semacam penghinaan baginya. Meski ia sangat tergoda untuk menggoda, tapi jika yang digoda tergoda, maka Susi enggan lagi menggoda. Wahyu menyipitkan pupil dibalik kontak lensa berwarna hitamnya. Ia fokus pada mata yang dihadapinya. Ingin menyelami, tapi ia selalu harus putar otak untuk membujuk pecinta teh itu agar mau membuatkan secangkir kopi untuknya. Jika ia tak bisa menyelami hati wanita ini, bagaimana kehidupannya nanti jika wanita yang ingin dipersuntingnya tak mau tahu hal yang paling membuatnya menikmati dunia.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Sudut pandang (felisha)
  • Coffee Shop Serendipity [ ON GOING ]
  • Cerita Tentang Langit Malam
  • Kopi pahitku
  • Andanan Coffee
  • ONLY YOU(只有你)
  • Coffee Cantata

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines