Ballerina in Trap

Ballerina in Trap

  • WpView
    Reads 164
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 8 hours ago
⚠️Bukan lapak plagiat⚠️ Semuanya berawal dari pertemuan keluarga besar yang menghadirkan banyak anak, cucu, buyut bahkan kerabat dekat. Dan dari sana, pertemuan itu menjadi sebuah malapetaka bagi seorang Abraham Ace Konan-pria yang berusia 30-karena perhatiannya malah tertuju pada seorang gadis yang sedang dirinya cari, yang ternyata anak pamannya. Lilly Louisa de Bones, seorang Ballerina sekaligus mahasiswa seni di salah satu kampus ternama di kota Berlin. Dari sanalah Abraham sadar bahwa permasalahan yang dirinya punya dengan Lilly, tidak mudah untuk diselesaikan. Abraham yang tadinya ingin membunuh-atau setidaknya menjebloskan gadis itu ke penjara-malah memiliki niat lain untuk memberinya hukuman. Tapi, akankah bisa Abraham memberi pelajaran pada Lilly? Atau takdir berkata lain?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Last Yes!
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • The Villain's Mother
  • Revenge Marriage (SELESAI)

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines