Di ambang kehancuran dunia, ketika langit kehilangan warna dan bumi mulai retak oleh kekacauan, dua belas kesatria terpilih muncul dari penjuru bumi. Mereka adalah warisan terakhir dari penjaga lama, masing-masing mewarisi simbol kekuatan purba yang terikat pada elemen, kehendak, dan takdir mereka.
Kegelapan yang selama ini tersegel dalam kurungan abadi telah bebas. Ia bukan sekadar sosok, tapi kekuatan purba yang pernah nyaris menghancurkan segalanya. Kini, setelah ribuan tahun, ia kembali datang ebih kuat, lebih licik, dan lebih liar. Ia menanamkan ketakutan, memecah belah umat manusia, dan merusak keseimbangan antara cahaya dan kegelapan yang menjaga dunia tetap hidup.
Dua belas kesatria harus bersatu, meski mereka datang dari latar yang berbeda, membawa luka, rahasia, dan keraguan masing-masing. Mereka harus menghadapi ujian batin dan fisik, karena kegelapan tidak hanya datang dari luar, tapi juga dari dalam diri mereka sendiri.
Pertarungan ini bukan sekadar tentang menang atau kalah. Ini tentang menjaga keberadaan, melindungi harapan, dan menemukan cahaya di tengah malam yang tak berujung.
Apakah dua belas cahaya akan cukup untuk menahan kegelapan yang telah tumbuh bersama waktu? Kita saksikan perjalanan mereka?
Membuka mata di dunia antah berantah, gadis modern abad 21 yang terbiasa dengan ponsel dan wifi itu kini harus menerima takdirnya menjadi seorang pembuat roti di ibu kota abad entahlah.
Sial, bahkan didunia barunya tidak pakai kalender sebelum masehi dan masehi seperti dunia asalnya!
Katanya sih sekarang tahun ke-671 A.A.
Tak ada pilihan lain, Aria- sekarang telah berubah menjadi Elira, memilih menerima kehidupannya sebagai pemilik toko kue sekaligus pembuat roti di ibu kota kekaisaran.
Tapi, sepertinya dewa di dunia baru ini tidak menyukainya. Setelah Elira mulai menikmati hidupnya di dunia asing ini- gadis itu dihadapkan dengan masalah baru. dia bangun dengan pria asing di kasurnya. Biadabnya lagi, pria itu adalah KAISAR?!
Kaisar gila yang membunuh seluruh anggota keluarganya, kini berada di kasur gadis itu.
Elira ingin menangis.
_________________