Ke Mana, Aku Pulang?

Ke Mana, Aku Pulang?

  • WpView
    Membaca 148
  • WpVote
    Vote 22
  • WpPart
    Bab 9
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Sep 19, 2025
"Aku cuma minta ditemani sebentar, tapi kenapa rasanya semua orang berlomba-lomba ninggalin aku?" Alya Putri Kirana, gadis yang tumbuh di rumah tanpa pelukan, tanpa pelindung, tanpa suara yang bilang "kamu nggak salah." Saat luka datang bukan dari luar, tapi dari orang-orang yang katanya "keluarga"... siapa yang bisa disalahkan? Saat setiap kata tolong Alya cuma dibalas diam, tawa sinis, atau bahkan pukulan. Alya belajar menyembunyikan luka-lukanya dalam senyum yang dipaksa. "Papah, bunda... kenapa kalian gak lihat Alya?" "Kak Zeo... Kak Risa... kenapa kalian tutup telinga?" "Ryan... Fani... kenapa kalian hancurin Alya justru saat Alya percaya?" Semua orang menolak Alya. Meninggalkan Alya. Menghakimi Alya. Sampai satu hari, datang seseorang. Dia gak bilang banyak. Dia gak paksa Alya cerita. Tapi dia hadir... "Gue gak janji jadi penyelamat lo, Al. Tapi... kalau lo butuh rumah, gue bisa jadi itu." Siapa kah laki-laki yang bakal lindungin Alya??? Penasaran ayo baca??? Janga lupa follow Akun wp aku 👉🏻@gadis_keciilll IG aku 👉🏻@gadis_keciil Jangan lupa ramaikan yaaaw mantemen. Bunga matahari buat kalian satu-satu 🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#55
segitiga
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Transmigrasi Ziora
  • EVANESCENT
  • The Time
  • GRAVARENZO
  • Blueprint Pelarian Villain
  • I'm Not Just a Figuran
  • GHAIKA (REVISI)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Tsundere Maniak Susu

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan