Sajak di Balik Kanvas

Sajak di Balik Kanvas

  • WpView
    Reads 112
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 10, 2026
Dua tinta berbicara, meniti yang tak terucap hingga gores dan kata bertemu. Jazel Kalana Diaskara melukis untuk bertahan, dan Alka Lesyara Aislenna menulis untuk tetap diam. Alka jatuh kagum pada Jazel sejak pandangan pertama -seperti tokoh dalam novel yang ia tulis menjelma nyata, seorang seniman dengan luka yang tak pernah ia ceritakan. Jazel tidak pernah tahu, dan mungkin tidak perlu tahu. Keduanya menyimpan lara dan rasa dengan cara berbeda. Mereka sama-sama tahu rasanya kehilangan orang dan kehilangan tempat untuk pulang. Bagi mereka, seni adalah rumah sementara ketika tak ada lagi tempat untuk kembali. Di antara mereka, ada rasa yang hidup tanpa pernah diminta utuk diucapkan.
All Rights Reserved
#36
sastra
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines