Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.
NISTA
  • WpView
    Membaca 17
  • WpVote
    Vote 4
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Jun 22, 2025
WpInfo
Fiksi
Romansa
⚠️ JANGAN PLAGIAT KARYA SESEORANG! ⚠️ "Yang hina tak selalu jahat. Yang suci belum tentu benar." Tahun 1997. Di desa terpencil Wanaraya, Nandar tumbuh bersama ibunya yang pendiam dan penuh larangan. Ia tak pernah tahu siapa ayahnya, tak pernah diizinkan membahas masa lalu, apalagi bertanya soal nama "Nayla" yang entah kenapa membuat ibunya gemetar. Semua berubah saat Nandar menerima surat tanpa pengirim. Isinya hanya satu kalimat: "Kau bukan siapa yang kau kira." Tak lama setelah itu, ia menemukan makam dengan namanya sendiri, foto masa kecil dengan wajah yang disobek, dan rekaman suara perempuan menangis menyebut satu nama: Nayla. Dari sanalah ia mulai menyadari bahwa hidup yang selama ini ia jalani bukan miliknya. Ia adalah anak dari tragedi. Seorang bayi yang lahir dari dosa, dibesarkan dengan identitas palsu demi menyelamatkan nama baik keluarga. Ibunya bukan ibunya. Namanya bukan namanya. Dan yang ia sebut rumah, ternyata adalah tempat persembunyian dari aib masa lalu. Tapi siapa yang sebenarnya menyembunyikan semua ini? Siapa Nayla? Mengapa suara surat-surat misterius terus muncul dari orang asing bernama Maya? Dan... mengapa setiap orang di desa ini lebih memilih diam, meski tahu kebenarannya? Ketika Nandar tahu seluruh kebenaran, ia harus memilih: membuka semua luka dan membakar masa lalu, atau menguburnya bersama nama aslinya. Jika kamu tahu hidupmu dibangun di atas kebohongan Apakah kamu berani menghancurkan untuk menemukan siapa dirimu sebenarnya?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#305
derita
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Tsundere Maniak Susu
  • GRAVARENZO
  • Transmigrasi Ziora
  • The Time
  • GHAIKA (REVISI)
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Blueprint Pelarian Villain [END]

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan