𝑵 | NOCTRAE : The Boy Raven Couldn't Kill
Hujan turun tanpa aba-aba di tengah kota yang tak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon memantul di genangan air, menciptakan warna merah dan biru yang saling bertabrakan di aspal basah. Malam itu seharusnya menjadi malam biasa bagi Arka-seorang kurir bayangan yang hidup dari mengantar paket-paket rahasia tanpa banyak bertanya.
Namun satu kesalahan kecil mengubah semuanya.
Seseorang mengejarnya.
Langkah sepatu terdengar cepat di belakang gang sempit. Napas Arka memburu ketika ia membelok tajam, menabrak tubuh seorang pria asing yang berdiri tenang di bawah cahaya papan toko rusak. Rokok di tangan pria itu jatuh ke tanah.
"Kalau lari, lihat depan," ucap pria itu datar.
Arka mendesis pelan sambil memegangi bahunya. "Minggir kalau nggak mau ikut mati."
Kalimat itu seharusnya terdengar seperti ancaman. Tapi pria asing itu hanya menatap sekilas ke arah para pengejar yang mulai memenuhi ujung gang. Tatapannya dingin, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja berada di situasi berbahaya.
Kemudian semuanya terjadi begitu cepat.
Suara tulang retak. Tubuh seseorang menghantam tembok. Dan dalam hitungan detik, tiga pria bersenjata yang mengejar Arka sudah terkapar di tanah bersimbah hujan.
Arka membeku.
Pria asing itu membersihkan darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan sebelum menatap Arka lagi. Mata gelapnya tajam, nyaris tak memiliki emosi.
"Ada lagi yang ngejar kamu?" tanyanya.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun hidup di dunia penuh kekerasan, Arka merasa takut pada seseorang yang bahkan belum ia kenal namanya.
Dan tanpa ia sadari, pertemuan tidak sengaja malam itu menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kejar-kejaran antar geng.
Karena pria itu bukan orang biasa.
Ia adalah pembunuh yang selama ini dicari banyak organisasi kriminal.
Sementara Arka-adalah satu-satunya saksi hidup yang seharusnya sudah mati malam itu.