Social Battery: 0%

Social Battery: 0%

  • WpView
    Reads 4,268
  • WpVote
    Votes 555
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 21, 2025
Sasmaya Diatmika Bestari hidup nyaman dalam dunia ideal versi dirinya. Kerja WFH dan berinteraksi sosial seminim mungkin. Sebagai introvert ekstrem yang kikuk, kuper, dan lebih jago membalas chat daripada ngobrol langsung, Sasi sudah sangat berdamai dengan kesendiriannya. Apalagi sejak kecil dia tahu betul, berinteraksi terlalu banyak cuma bikin capek dan kadang, bikin sakit hati. Soal cinta? Ya ... pernah. Sekali. Waktu SMA. Itu pun kandas karena Sasi ogah diajak ketemuan langsung. Hidupnya tenang sampai ibunya mulai khawatir. Beliau menyemburnya dengan tegas bahwa dirinya butuh bersosialisasi, dan tentu saja, cari jodoh. Sasi nyaris lupa bahwa jodoh pun ternyata harus dicari ke luar rumah, dan tidak bisa dipesan lewat Shopee. Bertepatan dengan itu, penawaran menjadi karyawan tetap berhasil masuk dengan mulus lewat email. Dengan catatan tambahan, Sasi harus WFO. Sekarang, Sasi harus keluar rumah. Bertemu orang. Dan ... mungkin, bertemu dengan takdirnya? 24 Juni 2024
All Rights Reserved
#751
officeromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Lamaran [END]
  • Stand by Me
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Hello Mr. Komrad
  • Kembang Desa
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Salah Status

Cerita ini ada di paijo juga. --- Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines