EYES FROM ANOTHER WORLD

EYES FROM ANOTHER WORLD

  • WpView
    Reads 2,443
  • WpVote
    Votes 205
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Oct 10, 2025
Shafa Arum Calista. Gadis berparas manis dengan sorot mata yang selalu tampak tenang. Tak banyak bicara, tak mencolok. Hari-harinya berlalu seperti siswa kebanyakan-datang pagi, belajar, pulang sebelum langit benar-benar gelap. Namun semua berubah ketika ia duduk di bangku kelas sebelas. Shafa bergabung dalam organisasi OSIS sebagai sekretaris. Tugas-tugas administratif membuatnya terbiasa tinggal lebih lama di sekolah, bahkan saat koridor sudah sunyi dan cahaya sore mulai meredup jadi bayangan. Sore itu, pukul 17 lewat 15 menit. Langit di luar telah berwarna kelabu. Suasana sekolah nyaris hampa-terlalu sunyi untuk ukuran hari biasa. Shafa sendirian di ruang OSIS, sibuk merapikan dokumen, mengunci laci, memeriksa ulang barang-barang. Lalu, saat tugas terakhir selesai dan tangannya menyentuh gagang pintu... Ia membeku. Napasnya tercekat. Matanya melebar. Seorang laki-laki berdiri di ujung ruangan. Diam. Menatapnya dengan pandangan dingin. Wajahnya asing... terlalu pucat untuk ukuran manusia. Tubuhnya tak bersuara, bahkan tak tampak bernafas. Padahal tadi-Shafa yakin betul-ia sendirian. "L-Lo... siapa lo?" bisiknya nyaris tak terdengar, seolah takut suaranya memancing sesuatu yang tak seharusnya bangun. Laki-laki itu tetap tak bergeming. Tatapannya menusuk, seperti menembus dimensi yang tak kasat mata. Dan sejak hari itu... hidup Shafa tak pernah benar-benar sama lagi. 🌷. ketauan plagiat? gak segan' lah ngajak ribut wkwk. se enaknya di plagiat😒
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GHAIKA (REVISI)
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT
  • Tsundere Maniak Susu
  • Blueprint Pelarian Villain
  • The Time
  • Transmigrasi Ziora
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GRAVARENZO

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines