Malik Qalbi

Malik Qalbi

  • WpView
    Reads 258
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 31, 2026
seorang gadis bercadar berjalan di malam hari dengan ke adaan buru buru ketika ingin menyebrangi jalan, ia tidak melihat ada motor yang sedang melaju sangat cepat Tinnnn tinnnn "Aaaa" Brukkk vania membelolakkan matanya melihat pemotor itu terjatuh akibat menghindarinya Zivania Tunnisa "Astagfirullah" diapun segera berlari untuk menolongnya "k-kaka ng ngga papa?" Tanya nya sedangkan pemuda yang terjatuh itu langsung membuka helmnya dan menatap vania dengan sangat tajam "APA GUNANYA MATA LO HAH!!??" Bentak Dean Alvaro Dean varz "ma maaf" ""CK, KATA MAAF LO NGGA BERGUNA BANGSAT, LAGIAN LO KENAPA JUGA KELUAR TENGAH MALAM BEGINI, oh ataukah lo habis ngejual diri lo??" ""wah wah wah, lo nutupin tubuh jalang lo dengan pakaian tertutup gini yah" lanjutnya sambil bertepuk tangan Mendengar hinnan nari mulut cowok itu, ia meneteskan air matanya dan menatap cowok itu Dean mematung melihat pemandangan yang ada di depannya bagai mana tidak, vania memiliki mata yang sangat indah serta bulu mata yang lentik dan panjang merasa di pandang, vania langsung mengalihkan pandangannya "Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkanku" ucap Vania "Buka cadar lo"
All Rights Reserved
#26
gadisbercadar
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GHAIKA (REVISI)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GRAVARENZO
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Tsundere Maniak Susu
  • The Time
  • I'm Not Just a Figuran
  • Transmigrasi Ziora

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines