Sehari Lagi di Hidup ini

Sehari Lagi di Hidup ini

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 24, 2025
Setiap hari berlalu dengan rutinitas yang nyaris sama-bangun pagi, menyiapkan sarapan, pergi bekerja, berbicara dengan rekan-rekan, lalu pulang ke rumah yang sepi. Begitu seterusnya. Namun, di balik keseharian yang tampak sederhana, tersimpan berbagai rasa yang jarang terucap: rasa syukur, kesepian, harapan kecil, luka lama yang samar, dan impian yang tertunda. Novel ini mengajak pembaca menyelami makna setiap hari yang sering terlewatkan. Tentang bagaimana satu hari lagi bisa berarti kesempatan untuk berubah, memaafkan, atau sekadar menikmati matahari pagi. Melalui sudut pandang tokoh-tokohnya yang begitu dekat dengan kehidupan kita, Sehari Lagi di Hidup Ini menghadirkan potongan kisah yang hangat, kadang pilu, namun selalu jujur. Larkspur_22
All Rights Reserved
#110
dirimu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • poem
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • Semua Memukul (✅)
  • Rembulan Yang Sirna
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • My Wish
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • 365 HARI BERCINTA DENGAN PUISI
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines