Di dunia yang berlapis antara mimpi dan nyata, hiduplah dua jiwa yang selalu bergerak searah, namun tak pernah bersentuhan. Seperti dua sisi dari satu cermin: ia melihat pantulan, tapi tak bisa meraba wujudnya.
Lelaki itu bernama Kael. Seorang pengelana yang tak pernah tahu kenapa langkahnya tak pernah tenang, seolah ada sesuatu yang hilang namun tak ia kenali. Ia hidup berpindah-pindah, dari satu kota ke desa, dari satu lembah ke puncak gunung, mengikuti bisikan-bisikan aneh yang datang di malam hari. Bisikan yang bukan dari luar, melainkan dari dalam dadanya. Suara lembut, kadang nyaring saat ia merasa hampa. Ia tak tahu dari mana suara itu datang, tapi ia merasa itu bagian dari dirinya.
Di sisi lain dunia, ada seorang wanita bernama Lyra. Ia tinggal di tepi hutan tua yang selalu berkabut, menjalani hari-hari dengan menyusun potongan mimpi. Lyra bisa merasakan emosi yang bukan miliknya. Tangis saat hari sedang cerah. Senyum saat kesedihan menghampiri. Ia tak tahu dari mana datangnya rasa-rasa itu. Namun tiap malam, ia menulis surat, meletakkannya dalam toples kaca, lalu menggantungnya di ranting pohon di hutan. Seolah menunggu seseorang membacanya.
Kael dan Lyra tak saling mengenal. Mereka tak tahu rupa masing-masing. Tapi setiap kali Kael duduk di dekat sungai atau di atas tebing, hatinya tenang seperti seseorang sedang mendengarkannya. Dan setiap kali Lyra menulis surat, kata-kata itu mengalir seolah ia menulis untuk seseorang yang sangat dekat-yang ia percaya sepenuhnya.
Namun semakin dekat mereka menuju titik temu, tubuh mereka melemah. Kael sering terserang mimpi buruk, tubuhnya menggigil meski tak ada angin. Lyra mulai merasa ringan, seolah kakinya tak menyentuh tanah lagi. Seperti daun yang lepas perlahan. Tapi mereka tak berhenti. Karena di dada mereka, ada kekuatan yang tumbuh. Mereka harus bertemu.
All Rights Reserved