Sejak mamanya meninggal, Wonyoung nggak pernah punya rumah. Bangunan besar yang dia tinggali cuma tempat tidur, bukan tempat pulang. Ayahnya dingin, kakak-kakaknya pergi, dan sekolah jadi medan perang yang tiap hari ngerusak sedikit demi sedikit sisa dirinya. Wonyoung tumbuh jadi cewek bermulut pedes, tajam, dan sulit disentuh. Kaya raya, old money, tapi kosong. Dunia ngajarin dia satu hal: kalau lembut, dia bakal hancur. Saat ayahnya merasa Wonyoung makin tak terkendali, sebuah keputusan sepihak diambil-menjodohkannya. Bagi Wonyoung, itu bukan solusi. Itu hukuman. Tempat asing yang dia yakini cuma bakal jadi penjara baru, tanpa cinta, tanpa pilihan. Tapi pelan-pelan, Wonyoung sadar satu hal yang nggak pernah dia sangka. Tempat yang dia benci itu... justru jadi satu-satunya tempat di mana dia merasa aman. Bukan karena diwajibkan. Tapi karena untuk pertama kalinya sejak mamanya pergi, ada seseorang yang nggak ninggalin. Ini bukan cerita cinta instan. Ini cerita tentang kehilangan, kemarahan, dan bagaimana "rumah" ternyata bisa ditemukan di tempat yang paling tidak diharapkan.
More details