WORD THAT BURN

WORD THAT BURN

  • WpView
    Reads 221
  • WpVote
    Votes 111
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 26, 2025
Pada musim semi yang berlumpur dan bau darah, Ivan Melnikov berdiri di sudut kafe tua dengan selembar pamflet yang masih hangat dari mesin cetak. Ia tahu polisi rahasia mengawasi, tapi saat Vera masuk ke ruangan, semua ketakutan mendadak tak relevan. Mereka bukan kekasih. Mereka bahkan tidak sepakat dalam banyak hal: Mereka memiliki pendapat dan pemikiran yang cenderung bertolak belakang. Vera percaya pada anarki yang terstruktur, sementara Ivan percaya sosialisme bisa menyelamatkan jiwa. Tapi mereka pulang ke tempat yang sama. Saling menyalakan rokok di tengah tumpukan naskah yang belum diedit. Saling mencium di lorong cetak saat peluru bersarang di luar jendela. Saling bertanya: "Kalau revolusi gagal, apa kamu masih akan mencintaiku?" Dan tak pernah menjawab. Ivan menulis artikel-artikel yang membuatnya buronan. Vera menyembunyikan salinan koran dalam jaketnya sambil menghadiri rapat-rapat di gudang tua. Mereka miskin, lapar, dan tak punya masa depan. Tapi mereka punya malam. Dan dalam malam-malam itu, mereka berbicara tentang langit. Tentang kota utopis yang tak akan pernah mereka lihat. Tentang kehidupan setelah kematian. Tentang apakah cinta masih bisa hidup kalau sistem berubah. Happy Reading Xoxo 💋
All Rights Reserved
#388
politik
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Asmaranala
  • Permaisuri Palsu dan Harem Yang Kucuri
  • BUN𝖦A PRIBUΜI |ᴅɪғғᴇʀᴇɴᴛ ʙʟᴏᴏᴅ| [END]
  • The Palace Stewardess
  • SINGASARI, I'm Coming! (END)
  • SUAMI KAISAR
  • 𝐒𝐓𝐎𝐑𝐘 𝟏𝟗𝟔𝟓 ║𝐏𝐈�𝐄𝐑𝐑𝐄 𝐓𝐄𝐍𝐃𝐄𝐀𝐍
  • Duchess of Valtor
  • Para ibu generasi tahun 60-an dimanipulasi secara mental, dan seluruh keluarga m

Di awal kisah, aku dan kamu satu. Parasku itu parasmu. Ragaku serupa ragamu. Namun hidupmu ibarat jalan landai berhias ilalang, sedangkan hidupku layaknya tikungan curam terjal berbatu. Dirimu begelimang kasih, tapi diriku berbalut nestapa. Mudah untukmu, yang sulit jadi bagianku. Kamu beruntung, aku yang sial. Kenapa harus kamu, bukan aku? Memang apa kesalahanku? Salahkan jika kini aku ingin berada di posisimu? Saudariku, kumohon menghilanglah selamanya. PERHATIAN!!! Cerita ini seluruhnya FIKTIF belaka serta tidak terkait dengan sejarah kerajaan manapun walau kisah berlatar kerajaan masa lampau. Semua nama, tokoh, karakter, tempat, waktu, dan jalan cerita hanya rekaan demi kepentingan HIBURAN semata.

More details
WpActionLinkContent Guidelines