Kelompok KKN 17 adalah kumpulan dari 13 mahasiswa dari berbagai jurusan dan latar belakang, yang dipertemukan bukan karena pilihan, melainkan oleh takdir bernama sistem acak kampus. Mereka datang dari dunia yang berbeda-ada yang dari Teknik, Sastra, Kedokteran, hingga Komunikasi-dengan usia dan kepribadian yang juga beragam. Awalnya, tak satu pun dari mereka saling mengenal. Beberapa bahkan sempat mengeluh karena merasa asing, canggung, dan bingung harus mulai dari mana.
Namun, momen pertama mereka berkumpul di aula kampus untuk monitoring bersama dosen pembimbing lapangan menjadi titik balik yang penting. Dalam sesi perkenalan, mereka mulai membuka diri. Ada tawa kecil, kesalahan menyebut nama jurusan, hingga cerita tentang tangan kanan Elvano yang masih tergantung karena kecelakaan motor beberapa hari sebelumnya. Suasana yang awalnya kaku, perlahan mencair.
Mereka adalah kelompok yang tidak sempurna. Ada yang pendiam, ada yang terlalu dramatis. Ada yang rapi banget, ada juga yang asal-asalan. Tapi justru karena perbedaan itulah, kelompok ini menjadi unik. Mereka belajar untuk memahami satu sama lain, saling melengkapi, dan bertumbuh bersama. Tidak hanya untuk menyelesaikan program kerja KKN, tapi juga untuk membentuk hubungan yang tidak akan berakhir saat masa pengabdian selesai.
Kelompok KKN 17 bukan sekadar tim kerja. Mereka adalah eksperimen sosial yang perlahan berubah jadi cerita, kenangan, dan mungkin-keluarga kecil yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
Dewandra sudah memikirkan secara Matang bahwa ia tidak akan menikah, 25 tahun ia mengabdikan dirinya menjadi seorang tentara yang setia dan melindungi negara tercinta.
Hingga di umurnya yang ke 41 tahun ia di angkat menjadi seorang pemimpin dan menyandang RI 1, selama 2 tahun masa jabatannya setelah lengsernya sang ayah yang merupakan President ke 8, Dewandra tidak pernah memikirkan sekalipun tentang sebuah pernikahan dan kehidupan dengan seseorang.
Namun ternyata takdir berkata lain, di tanggal 17 Agustus tahun 2025 di acara kemerdekaan RI matanya tak sengaja menatap seorang gadis berkebaya putih dengan kain batik berwarna merah, rambutnya di gerai indah dan senyum manis ramah yang menawan.
Ia hanya menatapnya sekilas namun sampai sekarang wajah gadis itu tidak bisa hilang dari ingatannya.
Dia Natasha Aira Van-dijk Chandramukhti, Anak tunggal dari salah satu Mentri di kabinetnya.