Angin sore menerobos masuk tanpa permisi. Kedua daun jendela berayun, menghantam kusennya berulang kali. Suara duk... duk... menggema di ruangan sunyi, diiringi hujan dan petir yang mulai bersahutan. Sebuah pintu kayu perlahan terbuka. Decit engselnya memecah keheningan. Di sampingnya berdiri lemari tua penuh buku.
Sesosok bayangan hitam melangkah masuk. Tatapannya menyapu ruangan hingga berhenti pada gulungan kertas yang menggelinding ke dekat sepatunya. Ia mengambil lalu membukanya. Di atasnya hanya ada rangkaian kalimat tanpa sapaan. Sebuah pengakuan yang tak pernah dipercaya siapa pun. Di bagian paling bawah, sebuah nama tercetak samar.
◆◇◆◇◆◇◆◇
Tidak semua orang kembali ke rumah lamanya hanya untuk mengenang masa lalu, apalagi sekadar menjadi tamu. Dia datang membawa sesuatu yang bahkan penghuni rumah itu sendiri telah lama berusaha kubur. Di balik dindingnya yang megah, lubang penuh darah masih tak mampu mereka tambal.
Senyum yang merekah tak pernah sekalipun berubah, menyembunyikan rahasia yang perlahan mulai membusuk. Baunya menjadi pengharum atas kedatangannya.
Namun, tempat itu penuh dengan permainan. Dan tentu saja, dia bukan bidaknya.
Jadi, siapa yang sebenarnya sedang diburu?
Dinding rumah itu tidak pernah benar-benar diam, apalagi bisa dibungkam.
Di balik lorongnya yang panjang, dan lampu gantung yang redup, tersembunyi sesuatu yang perlahan mulai terbuka bersama waktu.
Nama-nama yang telah dilupakan kembali muncul memenuhi lembaran buku yang menumpuk di perpustakaan, yang berusaha disembunyikan oleh debu. Seseorang mulai bergerak lebih dulu.
Lalu seseorang lainnya dijadikan bidak.
Dan tanpa disadari, permainan itu telah dimulai jauh sebelum siapa pun menyadarinya.
Peraturan.
Dalam permainan ini, tidak semua orang ikut untuk bertahan hidup, melainkan berusaha membuat dirinya sendiri mati.
Dia datang hanya untuk melihat semuanya jatuh.
Dan lantai marmer itu akan terlipat, melahap semua yang berada di atasnya.
◆◇◆◇◆◇◆
All Rights Reserved