Jangan Pulang Dulu, Ya?

Jangan Pulang Dulu, Ya?

  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 29, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
"Aku nggak tahu akan seperti apa cerita ini nanti. Aku nggak berani minta Tuhan buat kasih cinta baru. Aku cuma minta satu : Jangan disuruh berlari lagi, kalau aku bahkan untuk jalan saja belum siap." Sekar, perempuan dengan luka yang dalam dan langkah yang pelan pindah ke kota kecil untuk sembunyi dari hidup. Ia tak mencari yang namanya cinta, bahkan tak berani berharap untuk disembuhkan. Wira, seseorang yang datang dengan cara yang tak tergesa. Yang tahu bagaimana cara duduk dalam diam. Yang tidak mencoba memperbaiki Sekar, dan justru menemaninya pulih. Sebuah cerita tentang kehilangan, trauma, pulang, dan cinta yang datang tanpa mengetuk pintu terlalu keras.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Nakula
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Prahara Lamaran [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines