Namanya Raka Karunasankara, dia yang memiliki segalanya, wajah tampan, nama besar keluarga Arkatama, dan masa depan yang sudah diatur rapi. Namun, di balik dinding marmer rumahnya yang mewah, Raka hanyalah seorang putra yang tercekik oleh ambisi ayahnya dan kepalsuan perjodohan.
Lalu hadirlah dia, si gadis mungil nan ceria yang hobi menabraknya di koridor kampus. Nasya adalah anomali dalam hidup Raka yang teratur. Lewat lensa kameranya, Raka mulai melihat warna yang tak pernah ia temukan di rumahnya sendiri. Namun, ketika cinta mulai berdesir, tentu saja ada tembok besar dan kontrak bisnis yang mempertaruhkan segalanya.
Dia bukan laki-laki yang pandai merangkai kata. Tatapannya tajam, sikapnya dingin, dan kehadirannya sering kali mengintimidasi. Namun di balik tembok tinggi yang ia bangun, tersimpan jiwa yang diam-diam rapuh.
Caranya mencintai tidak pernah setengah-setengah. Raka mencintai dengan cara yang mungkin salah, terlalu dalam, terlalu kuat, sampai terkadang dekapan protektifnya justru melukai orang yang paling ingin ia jaga.
Sejak mengenal Nasya, logika Raka seolah mati. Gadis itu bukan lagi sekadar bagian dari hidupnya, melainkan pusat dari semestanya. Raka rela kehilangan arah, kehilangan akal, bahkan kehilangan dirinya sendiri... hanya untuk memastikan gadis itu tetap tinggal di sisinya.
Karena bagi Raka, mencintai bukan tentang kata-kata manis. Tapi tentang tetap berdiri di sana, mendekap erat, bahkan saat dunia di sekeliling mereka sudah runtuh berkeping-keping.
Apakah Raka akan tetap menjadi pion di papan catur ayahnya, atau berani merebut kebahagiaannya sendiri?
All Rights Reserved